RSS

Kelompok Rentan HIV Sedikit yang Gunakan Kondom

29 Mar

JAKARTA, KOMPAS.com – Penggunaan kondom pada kelompok risiko tinggi tertular HIV di Indonesia masih rendah. Kondisi ini tidak terkait dengan tingkat pengetahuan mengenai manfaat kondom, melainkan karena tidak ada regulasi yang mewajibkan kondom 100 persen dan terbatasnya layanan infeksi menular seksual maupun HIV.

Demikian disampaikan Manajer Program Penanggulangan AIDS pada Kelompok Risiko Tinggi Yayasan Kusuma Buana Rediscoveri Nitta, Selasa (31/3), dalam temu media, di Rumah Makan Omah Sendok, Jakarta. Acara itu diparkarsai Komisi Penanggulagnan AIDS Provinsi DKI Jakarta yang didukung Kemitraan Australia-Indonesia bekerja sama dengan Komunitas Jurnalis Kesehatan Indonesia.

Hasil penjangkauan dan pendampingan terhadap pekerja seks yang dilakukan Yayasan Kusuma Buana di beberapa lokasi praktik prostitusi di Jakarta menunjukkan, pengetahuan meningkat, akses kondom mudah dan terjangkau. Akan tetapi, penggunaan kondom konsisten masih rendah atau kurang dari 15 persen, angka kasus infeksi menular seksual atau IMS tinggi atau 84 persen, dan angka kasus HIV mencapai 10 persen.

Nitta menjelaskan, angka penggunaan kondom yang rendah disebabkan oleh tidak adanya regulasi yang mewajibkan kondom 100 persen. Apalagi keberadaan prostitusi tidak diakui sehingga tidak ada upaya pembinaan oleh pemerintah untuk pencegahan AIDS. Selama ini kebijakan yang ada sifatnya masih di atas kertas, sedangkan implementasi kebijakan di lapangan sangat lemah, ujarnya menegaskan.

Promosi penggunaan kondom pada kelompok risiko tinggi tertular IMS dan HIV, yaitu pekerja seks dan pelanggannya maupun pengguna narkoba suntik, juga sangat sulit. Sampai saat ini masih berkembang mitos penggunaan kondom pada kelompok risiko tinggi yaitu kondom tidak enak atau nikmat, merasa sudah bersih, menganggap kalau sudah sunat berarti aman terhadap penyakit, kata Nitta.

Meski sebagian orang berisiko tinggi tertular IMS dan HIV telah menggunakan kondom, tetapi pemakaiannya tidak konsisten. Kondisi ini menyebabkan penggunaan kondom di kalangan masyarakat berisiko tinggi itu masih belum efektif untuk mencegah penularan HIV. Padahal, penggunaan kondom yang konsisten penting untuk menurunkan angka IMS dan menekan kasus AIDS baik pada kelompok risiko tinggi maupun rendah.

Hasil penjangkauan dan pendampingan di lokasi Batu, Kepulauah Riau, menunjukkan, pada tahun 2007 angka konsistensi penggunaan kondom baru 13,6 persen sedangkan angka kasus IMS positif di kalangan pekerja seks mencapai 61,3 persen. Pada tahun 2008, angka konsistensi kondom meningkat jadi 37 persen dan ini diikuti dengan penurunan angka IMS positif jadi 18,3 persen. Konsistensi penggunaan kondom baru tercapai jika ada kesepaka tan di kalangan pengelola wisma yang dijadikan praktik prostitusi dan para pekerja seks, kata Nitta.

 
Leave a comment

Posted by on 29 March 2011 in Bebas

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: