RSS

Ujang – part 1

21 Feb

Dalam perjalanan dengan kereta api Turangga yang membawaku dari Surabaya menuju ke Bandung, dalam benakku berkecamuk dengan bermacam-macam pikiran yang belum tentu terjadi dan menjadi kenyataan, karena baru pertama kalinya aku pergi jauh seorang diri, tanpa seorang teman pun. Dan baru pertamakalinya aku akan mengunjungi rumah oomku (adik dari ibuku) setelah sekian lama aku tidak pernah berjumpa dengan beliau. Dalam masa liburan seperti saat ini apa yang harus kulakukan selain jalan-jalan untuk menyegarkan kembali pikiranku yang begitu suntuk ini. Setelah semalam aku tersiksa dengan pikiranku sendiri, akhirnya pagi itu kereta sudah sampai di stasiun Bandung dan aku harus meneruskan perjalananku dengan angkutan umum menuju ke puncak, karena aku memang tidak memberitahu oomku kalau aku akan berlibur di rumahnya, karena aku memang tidak ingin merepotkannya sehingga tidak ada jemputan untukku, disamping itu aku ingin memberi kejutan buat oomku.

Setelah melalu perjalanan hampir dua jam karena kendaraan yang aku tumpangi sering berhenti untuk mencari penumpang, maka akhirnya aku sampai juga ke villa oomku setelah hari menjelang siang. Aku masuki halaman villa oomku dengan harap-harap cemas, bagaimana seandainya oomku tidak ada di villanya melainkan sedang mengurus bisnisnya di Jakarta, dengan langkah pasti kutapaki jalan dengan batu kali di halaman rumahnya. Kuketuk pintunya dan tak lama kudengar langkah kaki mendekati pintu rumah kayu jati itu.

“Selamat siang, Oom,” sapaku.
“Eh, kamu Adi yaa?”
“Bener, Oom.”
“Udah gede yaa kamu, ganteng lagi,” kata oomku.
“Hmm,” gumanku sambil kepalaku membesar karena dapat pujian dari oomku.
“Ayo masuk!”
“Terima kasih, Oom.”
“Kamu dateng ke sini sama siapa?”
“Sendirian aja Oom.”
“Untung saja Oom belum berangkat ke Jakarta, karena nanti siang ada meeting dengan staff-nya Oom.”

Hampir saja kekwatiranku menjadi kenyataan, apa jadinya kalau oomku sudah berangkat ke Jakarta, aku kan bisa jadi orang gelandangan di sini.
“Nggak apa-apa khan kamu sendirian di sini?” kata oomku lagi.
“Biar nanti kamu ditemani si Ujang, pembantu sekalian merangkap tukang kebun yang mengurus villa ini, akan oom panggil dulu yaa si Ujang,” jelas oomku.
“Baiklah, Oom, tapi Adi nggak merepotkan Oom khan?” jawabku.
“Oh, tidak, santai saja, anggap villa ini seperti rumah kamu sendiri, kalau kamu perlu sesuatu tinggal suruh si Ujang untuk membantu kamu, oke?”
“Bentar yaa!”
“Jaaang, Ujaaang…” teriak oomku.

Tak lama kemudian datang seorang pemuda dengan postur tubuh kekar, padat berisi dengan kulit hitam seperti binaragawan yang terbentuk oleh alam dan wajahnya ganteng juga, taksirku dalam hati.
“Jang, ini Adi keponakan saya yang baru saja datang dari Surabaya, karena saya akan ke Jakarta selama beberapa hari, maka kamu temani Adi dan kamu bantu untuk memenuhi semua keperluan Adi yaa!” jelas oomku kepadanya.
“Baik, Gan,” jawab Ujang.
“Oke, Adi oom berangkat dulu yaa dan semoga kamu kerasan di sini yaa.”
“Baik Oom, selamat jalan dan hati-hati di jalan yaa!”

Lalu kamu bertiga keluar ke halaman untuk mengantar oomku menuju ke mobilnya yang sudah disiapkan di depan pintu. Ketika mobil mulai bergerak menuju ke arah jalan raya, kulambaikan tanganku untuk ooomku dan oomku juga membalasnya dari dalam mobilnya, setelah mobil belok ke arah jalan menuju ke Jakarta hingga tidak tampak lagi dari pandangan mataku, maka aku segera masuk kembali ke ruang tamu diiringi oleh Ujang yang juga berjalan di belakangku. Setelah aku duduk di sofa panjang, Ujang berjalan menghampiriku dengan perasaan tidak menentu, aku berusaha untuk menahannya untuk tidak mulainya secepat itu. Sehingga kudengar suara Ujang yang mengejutkan aku.

“Den, mau minum apa?” katanya.
“Apa kamu bilang, Den?”
“Ih, jangan panggil aku Aden, risih nih di telinga,” kataku.
“Habis mesti panggil apa, Den?” lanjut Ujang.
“Nah, itu lagi panggil Den lagi.”
“Jang, umur kamu sekarang berapa sih,” tanyaku.
“Delapan belas, Den,” jawabnya.
“Oke, karena kamu lebih muda dua tahun dariku, gimana kalau kamu panggil aku Mas Adi saja!”
“Baik, Den eh Mas Adi,” jawab Ujang.
“Oke Jang,aku mau minum minuman yang hangat!”
“Baik, Mas…” jawab Ujang dengan ragu-ragu karena belum biasa dengan panggilan itu.

Tak lama kemudian Ujang sudah muncul dengan segelas susu coklat yang membangkitkan selera dengan aroma coklatnya yang sedap itu. Setelah Ujang menaruhnya di atas meja yang ada di depanku, maka dia segera mohon pamit untuk membersihkan dan menyiapkan kamarku yang telah ditunjukkan oleh oomku tadi sebelum beliau berangkat ke Jakarta. Kuikuti langkah kaki Ujang yang mempesona diriku itu sampai hilang di balik pintu. Aku merenung, membayangkan tubuh Ujang bila tanpa selembar pakaian pun, keras dan padatnya tubuhnya dan terlebih lagi anunya seberapa yaa? Dalam anganku yang ngelantur itu akhirnya aku tersenyum sendiri dan tanpa kusadari Ujang telah selesai membereskan kamar yang akan kutempati.

“Ih, Mas Adi ngelamun yaa sambil senyum-senyum sendiri,” goda Ujang mulai berani.
“Ah, nggak kok,” tangkisku.
“Iya tuh, buktinya Ujang sudah lama berdiri di sini, Mas Adi nggak tahu tapi terus senyum sendiri,” lanjutnya lagi.
“Ya udah aah.”
“Eeng, anu Mas, kamarnya udah siap, silakan masuk dan beristirahat, pasti Mas Adi lelah yaa sehabis melakukan perjalanan semalam.”

Dengan langkah gontai aku berjalan di belakang Ujang sambil menenteng tasku yang lumayan berat. Ketika aku masuk ke kamar yang telah disiapkan untukku, ternyata ada sebuah tempat tidur dari kayu jati dengan ukuran king size, dan perabotannya semua dari kayu jati, lumayan luas juga kamar tidur ini dengan ukuran 4 X 4 meter, dengan lantai dari kayu juga dan dilapisi dengan permadani dari Persia untuk menambah kehangatan suasana.

Lalu kataku pada Ujang, “Jang, entar malem kamu temani aku tidur di sini, yaa!”
“Aah nggak, aaah.”
“Napa?”
“Ujang takut dimarahi sama Agan,” katanya.
“Bukannya, Aganmu lagi ke Jakarta, dan lagi aku kan sendirian di sini, aku butuh teman untuk ngobrol sebelum tidur.”
“Baik, Mas, sampai nanti malem yaa, saya mau membersihkan kebun belakang, silahkan Mas Adi bersitirahat atau mungkin mau jalan-jalan ke kebun belakang,” kata Ujang.
“Oke, Jang, sampai nanti malam yaa.”

Setelah sejenak aku menikmati suasana di dalam kamar itu, maka kuputuskan untuk membersihkan diriku agar rasa penat dan lesu hilang dari tubuhku, kulepaskan satu persatu pakaianku dan aku berdiri tepat di depan kaca dengan ukuran dua meter lebih yang ada di lemari pakaian itu. Aku pandangi bayangan tubuhku yang polos itu di kaca, ternyata aku juga tidak terlalu kerempeng bila dibandingkan dengan Ujang, dan kulitku lebih putih dibandingkan dengan Ujang, dan batang kemaluanku yang mulai menegang sepanjang 17 cm dengan kepala yang kemerahan apa sama ya dengan panjangnya batang kemaluan si Ujang sambil kukocok terus batang kemaluanku sambil membayangkan menggeluti tubuh hitam si Ujang sampai mencapai puncaknya, dan… “Ooohhh, aaauccchh eeenaakkk Jaaang… Aaayoo laggiii Jaannng…” racauku sendirian dalam mencapai nikmat dari onaniku di depan kaca, setelah rasa nikmat itu berangsur-angsur hilang segera aku masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar itu. Kuputar keran air hangat untuk mengisi Bathup yang ada di dalam kamar mandi itu, kutenggelamkan diriku dalam air hangat sambil meremas-remas batang kemaluanku yang akhirnya menegang kembali karena siraman air hangat dan kukocok kembali sampai keluar lagi dan akhirnya aku berdiam diri di dalam bak air hangat itu sambil kurasakan sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kudapatkan dengan membayangkan sedang bermain dengan si Ujang.

Setelah cukup lama aku berendam dalam air hangat, kemudian aku segera mengenakan pakaian yang cukup santai, setelan celana tiga perempat yang gombor dengan kaos oblong putih, aku berniat untuk tiduran, akan tetapi karena sehabis berendam dengan air hangat dan badanku terasa segar kembali maka akhirnya aku memutuskan untuk jalan-jalan saja ke kebun teh yang terhampar luas di belakang villa ini. Hitung-hitung untuk refreshing dan mencari pemandangan hijau yang tidak pernah kudapatkan di Surabaya yang panas itu.

Langkah demi langkah aku menapaki jalan yang naik-turun dibukit-bukit itu. Sepanjang jalan ini aku mencari-cari satu sosok yang telah menyita perhatianku, akan tetapi aku tidak menemukannya. Sampai tengah hari akhirnya aku putuskan untuk kembali lagi ke villa itu, karena aku merasa lapar sekali. Aku masuki rumah masih sepi seperti tadi ketika aku meninggalkannya, tidak ada sosok Ujang yang sedang kucari menampakkan diri. Kuhampiri meja makan yang ada di bagian belakang rumah itu, ketika kubuka tutup saji, ternyata semua keperluan makan siangku sudah tersaji di sana dan masih hangat lagi, ada telor mata sapi kesukaanku, sambal lalapan yang menjadi ciri khas orang Jawa Barat, ikan asin yang membangkitkan selera makan dan masih ada beberapa lauk pauk lagi. Karena aku merasa sangat lapar sekali langsung saja kuserbu makanan yang tersedia di meja itu tanpa harus permisi dulu, kalau mau permisi yang harus kepada siapa yaa, kataku dalam hati.

Bersambung ke bagian 02

 
Leave a comment

Posted by on 21 February 2011 in Bebas

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: