RSS

Tantangan Godaan

21 Feb

Hari Sabtu siang yang sedikit melelahkan. Aku tidak masuk kerja hari ini. Bu Poppy mengizinkanku untuk tidak masuk, tapi aku dibekali VCD yang berisi beberapa contoh iklan. Ini ujian aku pertama setelah hampir tiga bulan bekerja di biro iklan. Aku diminta buat konsep iklan sebuah kosmetik wanita dan akan presentasi hari Senin.

Sejak pagi aku bersih-bersih kamar sambil menyetel VCD contoh-contoh film iklan dari beberapa negara. Karya yang bagus dan ada yang cukup aneh menurutku dan sangat berani. Yaitu iklan kondom dengan memperlihatkan adegan dua pria yang saling bermesraan. Aku juga membuka majalah ekonomi dan beberapa majalah lainnya untuk mengumpulkan bahan-bahan presentasi. Aku mau lihat kecendrungan bentuk tampilan film iklan tv. Aku belum sempat merapikan kerjaanku, ketika kantuk menyerang. Akupun tidur setelah makan ketoprak, menu makan siangku. Murah dan bergizi.

Sebenarnya aku sudah terbangun dari tidur siangku, ketika pintu kamarku diketuk. Suara Ran yang memanggil di luar. Kulirik jam di dinding. sudah hampir jam empat. Lumayan lama aku tertidur. TV dan VCD playerku masih nyala, posisi standby.

“Sebentar… ” kataku sambil bangun dan merapikan rambutku yang kacau. Rambutku sudah mulai panjang rupanya, aku menyisirnya dengan jari-jariku. Kurapikan kaos dan celana batikku yang memutar di tubuhku sambil berjalan menuju pintu.

Ran berdiri sambil tersenyum ketika pintu telah kubuka. Kaos dan celana jeans hitamnya keren juga. Dia membuka sepatu ketsnya sambil jongkok. Ranselnya disandarkan dekat pintu. Aku perhatikan apa yang dilakukannya. Aku tanya kabarnya dan dua temannya-Ganda dan Dana. Katanya mereka baik-baik saja.

“Pulang kuliah aku langsung ke sini,” jelasnya.
“Sepatunya dibawa masuk saja, Ran,” kataku ketika dia sudah selesai membuka sepatu dan kaos kakinya. “Takut ada yang suka, dan mengambilnya. “

Ran tertawa dan membawa masuk sepatunya dan meletakkan di rak sepatu plastik disamping sepatuku. Aku tutup rapat pintu kembali. Aroma keringatnya menyegarkan di hidungku, dan ada aroma lainnya… Ran membuka ranselnya dan pengeluarkan pizza berukuran kecil dari sana. Inilah aroma yang ‘lain’ itu.

“Suka pizza ‘kan?” katanya sambil menaruh pizza yang dibawanya di lantai di atas karpet. Kemudian duduk, meletakkan ranselnya di pinggir.
“Suka sekali,” kataku. Dan aku ingat, masih punya tiga kaleng cocacola di lemari makananku. Aku mengambilnya, menaruhnya semua dekat bungkusan pizza dan duduk bersama.
“Sedang nonton VCD ya?” tanyanya sambil membuka kotak pizza ketika melihat VCD playerku dalam posisi stand-by.
“Iya, kerjaan kantor. Mau lihat?” kataku menawarkan sambil mengambil remote di atas kasur.

Sambil berdiri aku nyalakan vcdnya, yang sudah beberapa kali aku setel.

“Boleh juga nih,” Ran memperbaiki posisi duduknya, bersandarkan tempat tidurku. Posisi yang sama ketika dia pertama kali di kamarku.
“Iklan tv ya?” tebaknya ketika beberapa detik film iklan telah ditayangkan.

Ran pasti masih ingat kalau aku kerja di biro iklan yang kerjanya buat iklan media cetak, radio dan tv. Atau kadang melayani kerja event organiser juga. Kerjaan promosi dan publikasi. Dia mengambil sepotong pizza dan melahapnya. Kemudian sisa yang ada di tangannya ditambahkan saos tomat dicampur saus sambal. Kelihatan nikmat sekali. Aku ambil sepotong dan memakannya. Masih hangat. Hm… Bangun tidur langsung makan, rasanya kurang nyaman di mulut. Walau begitu pizza sepotong tetap habis kumakan. Lapar atau doyan nih?

Kemudian aku pamit ke luar, ke kamar mandi. Aku mau cuci mukaku sedikit agar lebih segar. Maunya sih mandi. Tapi, ntar sajalah..

Di kamar mandi aku kencing dengan hanya menarik karet celana batikku. Aku tidak pakai celana dalam. Udara panas seperti ini memang lebih nyaman tanpa celana dalam. Kemudian aku mencuci mukaku. Segar. Kusikat gigiku dengan cepat. Sebelum kembali masuk kamar, kulap mukaku dengan handukku yang tergantung di jemuran.

Dan ketika aku masuk ke kamar, kulihat di pesawat tv siarannya sudah berbeda. Aku tutup kembali pintu kamar, yang membuat ruangan sedikit gelap. Ran menoleh ke arahku.

“Aku ganti filmnya. Aku tadi baru beli di kaki lima di Glodok. Biasa, sepuluh ribu dapat dua,” jelasnya.
“Film apaan?” tanyaku pura-pura tidak tahu. Dari gambar yang ada memperlihatkan suasana kapal di tengah laut dengan dua cowok sedang bermesraan di atasnya.
“Biasa,” katanya, sambil minum cocacola di tangannya. Pizzanya tinggal sepotong.

Aku duduk sambil merapikan majalah dan kertas catatanku dan mengumpulkannya di pinggir. Dua cowok di tv sudah mulai saling buka pakaiannya. Badan mereka bagus sekali. Kepalaku mulai berdenyut lagi. Kuperbaiki dudukku, rasa ingin tahuku mulai lagi…

“Kok jadi gerah ya?” tanya Ran sambil memandangku.

Tersenyum dia. Pasti dia melihat barangku yang sudah mulai membengkak dibalik celana batikku. Ran menegakkan badannya dan membuka kaosnya. Badannya yang lumayan bagus dengan bahu yang kekar kelihatan mengkilat karena keringat. Dia membuka kancing celananya dan menurunkan ritseleting. Tonjolan kontolnya dibalik celana dalamnya membuat aku jadi bernafsu. Jantungku berdetak memperhatikan apa yang dilakukannya. Cuek sekali dia. Dibiarkannya celananya terbuka begitu. Memang lebih nyaman begitu untuk dia. Aku alihkan mataku ke tv. Nafasku sudah mulai tidak karuan. Ran pasti melihatnya.

Ran memang sedang menggoda. Dengan memperlihatkan vcd pornonya dan telanjang dada di depanku. Aku tarik nafas pelan tapi panjang. Aku berusaha untuk tenang, tapi kontolku rasanya makin mengeras. Ran mengelus barangnya dari luar celana dalamnya. Pelan. Aku menelan liurku. Ran sedang sangat bernafsu, dia elus perutnya yang kencang, dadanya dan mempermainkan putingnya yang merah dengan jempol dan telunjuknya. Kepala kontolnya kulihat nyaris nongol dari pinggir celana dalamnya. Memang suka pamer dia dan menggoda.

Aku duduk sambil menekukkan kakiku dan tanganku menyangga di samping tubuhku. Ototku terasa menegang. Jantungku, denyut kepalaku… Dua cowok di tv saling mengemut kontol, posisi 69. Kontol yang sangat besar, karena kulihat telapak tangannya penuh mengocok, mengulum… Membuat mulut mereka sangat penuh.

“Biasanya cowok gay bermasalah dengan orang tuanya,” kataku.

Suaraku terasa berat dan sediki parau. Ada yang nyangkut dikerongkonganku. Aku menelan liur lagi.

“Maksudnya?” tanya Ran, tanpa mengalihkan matanya dari tv. Eksploitasi kontol yang indah.
“Masalah dengan ayahnya. Misalnya merasa tidak cocok atau kurang perhatian ayahnya. Kalau aku lihat memang begitu.”

Aku perhatikan Ran. Dia memang enak untuk dilihat. Tampilannya aku suka. Ran menarik nafas panjang. Dia memandang ke arahku.

“Aku juga pernah baca begitu… “
“Iya kan? Dan aktifitas cowok yang menyukai cowok juga karena kebiasaan saja. Kompensasi mencari identitas ayahnya. “

Ran menegakkan badannya dan duduk bersila. Tinjolan kontolnya makin jelas terlihat walau sudah tidak begitu tegang.

“Kau tahu soal itu ya?” tanyanya.
“Sedikit. Itupun dari apa yang aku lihat dan perhatikan di lingkungan teman-temanku ketika kuliah. “

Kemudian aku jelaskan apa yang jadi pendapatku tentang cowok menyukai cowok. Apa yang dia lakukan untuk merangsang diri, seperti yang aku lakukan juga, itu adalah naluri normal makhluk hidup. Yang jadi masalah adalah objek penyalurannya. Karena kebiasaan pikiran dan penyalurannya dengan cowok, maka jadilah kegiatan yang tidak normal ini. Sesungguhnya, kalau dibiasakan penyaluran dengan normal, yaitu cowok dengan cewek, cowok yang bermasalah itu dapat normal juga. Tergantung kebiasaan saja sih.

Di tv adegannya makin panas. Adegan sodomi dalam berbagai posisi. Aku sudah tidak begitu memperhatikannya lagi. Inilah usahaku untuk tidak terangsang, tapi kontolku masih menegang bebas hanya tertutup celana batik, tanpa celana dalam. Ran kembali kulihat menarik nafas. Terdiam. Matanya kelihatan menerawang, mengingat sesuatu peristiwa.

“Mungkin kau benar, Yadi,” katanya ketika aku berhenti menyampaikan pendapatku.
“Aku memang bermasalah dengan Papa… Aku jadi kangen… ” Kembali terdiam. Menelan liurnya karena rasanya ada yang mengganjal di kerongkangannya.

Wajah Ran sedikit menegang. Dia cerita kalau ayahnya lama sudah tidak ada. Tidak tahu, apakah sudah meninggal atau masih hidup. Ayahnya yang pengusaha percetakan hilang ketika kerusuhan Mei 98. Kejadiannya di Grogol dekat kantornya. Ceritanya hanya didapat dari karyawan kantor ayahnya. Setelah pamit ingin cepat pulang karena situasi seperti perang waktu itu, ayahnya berencana pulang dengan mobil kijangnya. Suasana memang lagi panas-panasnya. Macet dimana-mana, apalagi ayahnya mesti melewati daerah kampus Trisakti. Ran mulai terisak. Dia menangis. Air matanya menetes di dadanya yang bidang.

“Aku kangen papa…,” katanya pelan, berusaha menahan tangis. Semakin dia tahan, tubuhnya makin menegang, terguncang.
“Sudah 6 tahun… Papa… ” Ran makin terisak.

Terus cerita lagi. Setelah kejadian itu dia tidak dapat berita apapun tentang ayahnya termasuk kendaraan kijangnya. Ran dan kakak satu-satunya-dia dua bersaudara-juga ibunya terus mencari. Hampir setahun pencarian itu. Sia-sia.

Ran melanjutkan ceritanya disela-sela isak tangisnya. Cerita tentang kakaknya yang nyaris diperkosa dan ibunya yang dapat perlindungan tetangga. Cerita masa kecilnya yang sangat dekat dengan ayahnya. Aku pernah dengar cerita tentang kerusuhan Mei 98. Tapi aku baru kenal langsung korbannya. Ran, pemuda yang terus mencari sosok ayahnya. Sosok lelaki yang dicarinya semakin lama mengarahkan Ran ke perilaku gay.

Aku bangkit dan duduk di pinggir kasur di belakangnya. Aku peluk dia dari belakang. Dia masih menangis. Aku tenangkan dengan menempelkan pipi kananku ke pipinya yang basah oleh air mata. Punggungnya kutempel di dadaku. Aku makin merapatkan tubuhku memeluknya. Bahunya keras dan lebar makin terguncang disela isak tangisnya.

“Maaf, aku jadi mengingatkan papamu. ” bisikku.
“Aku kangen sekali… Kangen… Papa.. ” katanya malah makin menambah isaknya.

Aku makin peluk dia. Lengan kananku di bahunya, sedang lengan kiriku di bawah lengannya, memeluk dadanya. Pipiku dan pipinya masih menempel rapat. Dapat kurasakan bulu jambangnya di pipiku dan kadang mnegelus daun telingaku. Ah… Aku tahu betapa sedihnya dia.

Aku elus dadanya untuk menenangkannya. Juga kepalanya, rambutnya yang pendek. Dan entah siapa yang memulai, bibir kami yang saling bersentuhan pelan-pelan akhirnya saling menekan, kami berciuman! Dia memiringkan kepalanya. Bibir hangatnya mulai membuka, mengulum bibir atasku. Gigi kami saling bersentuhan. Aku membuka mulutku dan lidah kami saling bermain. Kadang di mulutnya, kadang di mulutku. Lama kami berciuman begitu. Kok jadi begini? Kulihat dia menikmati apa yang kami lakukan. Matanya tertutup… Kurasakan kumis halusnya dan jenggotnya di sekitar bibirku. Dia pasti juga rasakan jenggotku dan kumisku yang baru tumbuh dan terasa kasar di wajahnya.

Aku jadi terangsang. Ran sudah tidak menangis lagi. Nafasnya mulai menggebu, nafsu. Bibir kami saling melumat. Kadang ke pipi, ke hidung dan kembali ke bibir. Basah! Tangannya sudah memegang samping kepalaku. Mengontrol gerakan mukaku. Tanganku juga masih mengelus rambutnya. Kontolnya nyaris keluar dari celana dalamnya. Tangan kiriku mulai bergerilya. Aku elus dadanya, turun ke perutnya sampai ke tonjolan kontolnya. Aku elus pelan sambil sedikit menekan. Terasa keras sekali dan berdenyut sama dengan detak jantungnya. Kuulangi terus. Naik ke atas dan turun lagi. Kakinya menegang…

Celana dalamnya mulai basah. Celanaku juga. Ran menghentikan ciuman kami kemudian melorotkan tubuhnya sampai kepalanya di atas kontolku yang menegang. Dia berbalik sehingga mulutnya bebas mengulum kontolku dari balik celana batik. Karena tidak pakai celana dalam dan bahan celanaku juga tipis, kurasakan kontolku hangat di dalam mulutnya tanpa ada yang menghambatnya. Celanaku basah karena liurnya. Karena cairan kontolku.

Aku tarik nafas dengan susah karena nafasku sudah tidak beraturan lagi. Kutahan nafas, tetap tidak bisa. Nikmatnya memang beda… Kupegang kepala Ran agar dia tidak terlalu mengulum kontolku sampai dalam, tapi tetap saja susah, justru kerongkongannya yang sempit itu membuat kontolku terasa nikmat. Celana batikku yang membatasi kontolku tidak menggganggu aktifitasnya. Lidahnya dipermainkan disekujur batang kontolku dengan liar. Aku tidak rasakan giginya. Ah, sudah pintar dia… Dia memebenamkan kontolku lebih dalam kemudian mengeluarkannya dengan jepitan otot bibirnya. Dia lakukan berulang-ulang, dengan pelan. Celana batikku sudah menempel mencetak kontolku, kesannya kontolku dibatik saja. Indah. Syarafku di kepala makin kencang… Denyutnya sudah tidak karuan sampai ke ubun-ubun.

Akhirnya kutarik kepalanya. Aku sudah tidak tahan… Sedikit lagi aku pasti orgasme.

“Sudah Ran,” kataku menyadarkannya dari kenikmatan yang luar biasa itu. Akhirnya kontolku melenting memukul bawah perutku ketika Ran mencabut kontolku dari mulutnya.

Dia menarik nafas. Dengusnya terasa panas. Sisa cairan yang dimulutnya disapu dengan telapak tangannya dan sebagian ditelannya. Kemudian dia telentang, menghadap langit-langit. Dada dan perutnya masih naik turun. Celana jeansnya sudah melorot sampai ke pahanya. Dia elus kontolnya, memainkan jari dan telapak tangannya di situ.

Aku berdiri. Pindah. Sedikit oleng karena keseimbanganku belum pulih. Aku duduk di pinggir kasur. Tanganku kutangkupkan dan kemudian kusapu ke wajah. Aku berusaha menenangkan diri. Pasti wajahku memerah seperti wajahnya. Aku menghentikan kegiatan kami di tengah jalan, pada puncaknya.

Beberapa saat kami terdiam. Film di tv telah selesai tanpa tahu selesainya seperti apa. Kembali aku menembuskan nafas. Kontolku masih sedikit berdenyut, basah. Sangat basah. Ran melirikku. Tangannya masih mempermainkan kontolnya dari balik celana dalamnya. Hari ini kami main ‘tertutup’. Dia mau mengatakan sesuatu. Tapi tidak jadi. Dia terdiam sebentar kemudian tersenyum.

“Terima kasih Yadi… ” katanya pelan, “Rasanya agak lega sekarang… “

Setelah merasa keseimbanganku normal aku bangkit, mengambil minum untuknya dan untukku juga. Aku serahkan botol aqua ukuran sedang padanya. Dia bangkit dari telentang, membuka segel dan tutupnya kemudian meminumnya dengan tegukan yang lama. Setengah botol sudah berpindah ke teronggokannya. Akupun minum dari botol minumku yang memang sudah terbuka.

Aku tutup bagian celanaku yang basah dengan menurunkan kaosku kemudian duduk di sampingnya sambil mengingatkan dia untuk kembali mengenakan celananya. Dia menurut saja, menaikkan celananya dan menarik restleting. Kembali aku ingatkan padanya untuk menahan diri. Seperti mengingatkan diriku juga.

“Entah kenapa aku selalu terangsang sama kamu.. ” kata Ran mengaku. Tangannya bergerak ke atas pahaku.
“Itu karena pikiran kita saja penuh akan hal-hal yang merangsang diri,” jelasku.

Nafasku sudah mulai tenang setelah minum beberapa teguk air. Aku katakan padanya untuk mengurangi sampai tidak melakukan melihat hal-hal yang porno. Kutahu koleksi majalah dan VCD pornonya lumayan banyak. Kalau otaknya selalu dijejali hal yang begituan, lihat apapun akan terasa melihat yang porno. Dan tetap akan dapat merangsang diri. Lama-lama akhirnya sampai pada titik tertentu yang akan menimbulkan kebosanan dan menginginkan tindakan yang sebenarnya. Kalau sudah sampai begitu, timbullah permasalahan perilaku seksual.

Kuncinya adalah mencoba untuk tidak melihat aurat orang lain, apakah itu gambar, film atau langsung. Juga tidak memperlihatkan aurat kita kepada orang lain. Aku tahu hal ini sering tidak konsisten aku jaga karena rasa ingin tahuku yang memang terus ada. Naluri sexku masih normal kok. Yang penting ada usaha untuk menjaga mata dan pikiran jauh dari yang berbau porno. Untung-untung ada yang mengingatkan.

“Begitu ya?” tanyanya merespon penjelasanku, “Kalau begitu koleksi barang pornoku mesti dimusnahkan dong… “
“Iya. Contohnya, kalau lihat vagina kambing aja bisa terangsang atau kalau sedang memegang kayu rasanya sedang memegang kontol saja. Iya kan?”

Ran tertawa mendengarnya. Entah setuju, entah tidak. Selagi aku menjelaskan pendapatku tadi, kulihat dia diam saja. Dia sudah mulai mengerti. Dia memiringkan tubuhnya dan memelukku. Aku balik memeluknya. Erat. Tubuhnya masih terasa panas.

“Kita jadi sahabat ya,” katanya. “Dan akan selalu saling mengingatkan. “

Aku mengangguk. Mencium pipinya dekat telinga. Dia juga melakukan hal sama. Lega rasanya. Hampir saja kami melakukan hal berdosa lagi. Ran melepaskan pelukannya. Kemudian kami berdiri. Ran mengambil kaos dan memakainya. Kami bersalaman seperti orang baru berkenalan. Kami saling menatap, tersenyum. Dan kembali berpelukan lagi, sambil kutepuk pelan punggungnya.

“Sebaiknya aku pulang,” katanya. Suaranya pelan.
“Aku senang hari ini, punya sahabat seperti kamu. “

Kami melepaskan pelukan. Aku mengangguk. Terus terang aku terharu dengan apa yang terjadi tadi. Aku dan Ran punya kecendrungan yang sama, mungkin dengan alasan yang beda. Aku suka lihat cowok, terutama yang memang cakep karena naluriku suka melihat yang indah-indah. Sedang Ran untuk mencari identitas ayahnya yang hilang. Penyaluran nafsu seksual kami yang salah. Selama ini pertahananku selalu jebol dengan godaan Ran.

Di luar sudah gelap ketika Ran pulang. Aku rapikan kamarku dari bekas pizza dan kaleng cocacola. Sisa pizza yang sepotong aku pindahkan kepiring kecil dan menyimpannya di lemari termasuk cocacola yang tersisa. Alas tempat tidurku dirapikan juga. Vcdnya Ran masih ada di vcd playerku. Kutahan diri untuk tidak kembali menyetelnya.

Aku mau mandi dulu dan tukar celana. Otakku kembali mengingat rasanya kontolku diemut Ran tadi… Aku nanti bisa-bisa masturbasi sambil mandi. Aku jadi kangen… Aku melangkah ke luar kamar dan menuju kamar mandi sambil mengambil handuk yang tergantung dekat situ.

E N D

 
Leave a comment

Posted by on 21 February 2011 in Bebas

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: