RSS

Gay Backpacker 2

21 Feb

Sesampai di terminal Ciamis mereka menumpang ke Mushola terminal. Sebagaian menunaikan sholat subuh sedang yang lain membasuh diri dan ada yang tiduran lagi. Awang tidak sholat karena dia ragu apakah dia harus junub atau tidak.

Awang jadi bingung. Semalam bukankah dia duduk dengan si kembar yang mengaku bernama Andre? Namun waktu turun tadi dia mengaku sebagai Andra… hmmm jangan-jangan dia dikerjain oleh si kembar. Sesungguhnya Awang juga masih belum bisa benar membedakan mana Andre dan mana yang Andra.

Tepat jam 6 bersepuluh mereka menaiki sebuah mobil angkutan kota yang disewa ke Pengandaran. Mereka langsung menuju ke sebuah hotel. Dari 5 kamar yang mereka pesan ternyata baru ada 1 kamar yang kosong. Beni dan Zaky lalu pergi keluar untuk membeli makanan. Kamar mandi segera dikuasai bergantian untuk membuang hajat. Dimulai dari si kembar.

Dony, Hendra, Def, dan Aldi entah kabur ke mana. Mungkin mereka mencari WC lain. Awang kali ini punya kesempatan banyak bercakap-cakap dengan si kembar sementara Rudi bule sedang sibuk dengan ritual paginya.

Salah satu dari si kembar duduk sambil asyik dengan hapenya yang lain sedang membereskan baju kotor dan jumper yang mereka pakai semalam.

“Jadi siapa di antara kalian yang duduk bersamaku semalam?” Awang bertanya polos tapi serius.

Andre dan Andra saling menunjuk. Telunjuk Andre mengarah ke Andra dan sebaliknya. Awang menunjukkan muka kurang suka karena dipermainkan. Setelah menghela nafas tanda kesal, ia melotot pada si kembar. Tetap saja si kembar saling tunjuk tidak mau mengaku.

“Aku mau kasih hadiah buat yang semalam duduk bersamaku” balik Awang.

Si kembar bersama sama menunjukkan secara bersama mengaku. Telunjuk mereka diangkat tinggi mirip anak SD yang sedang diabsen pak guru. Mereka sangat menikmati kejahilan mengerjai orang dengan kekembaran mereka itu.

“Aku tahu salah satu dari kalian adalah pecundang tengik dan suka bohong…”

Pernyataan Awang terakhir memancing emosi rupanya.

“Hoi! Bangsat” Andre maju mencengkeram leher baju Awang hendak meninjunya.

Andra menahannya.

“Kamu tuh yang banci munafik… pura-puranya gak mau. Ternyata ketagihan kontol juga…” semprot Andre setelah ditahan Andra.

Awang hanya tersenyum. Berarti memang benar ternyata Andra yang melakukan istong kepadanya semalam. Istong artinya Isap si Otong.

“Sudahlah… kalah ya kalah saja… tak usah emosi gitu deh…” sergah Andra yang badannya tidak kalah berotot.

“Apa ketawa-ketawa… ga lucu tau!!” sergah Andre yang yang melihat Awang senyum-senyum.

Lalu Andra menyeret saudaranya itu ke luar kamar. Rudi keluar dari kamar mandi.

“Ada apa Wang? aku dengar sepertinya ada yang marah-marah begitu…”

“Gak.. ga ada apa-apa kok… itu si kembar latihan drama saja…” Awang mengelak.

“Kamu mau pakai kamar mandi?”

“Gak deh.. aku sudah…”

“Hmm kupesankan kopi panas buat kamu ya…” ujar Rudi

Muka Awang terlihat agak pucat. Sebagai sesama Backpacker mereka saling menjaga dan memperhatikan yang lain. Rudi mengangkat telepon ke resepsionis untuk memesan minuman hangat. Baru saja Rudi meletakkan gagang telepon Andra dan Andre masuk ke kamar mendekati Awang.

Andre mengulurkan tangan.

“Sorry yang tadi ya Wang…” kali ini dengan emosi yang sudah mereda.

“Siapa kamu?”

“Aku Andre… Neh perhatikan tahi lalat di telinga kiriku” ujar Andre mengulurkan tangan lagi setelah menunjukkan tahi lalatnya.

Awang melengos tidak membalas permintaan maaf Andre.

“Ck… jangan kayak anak kecil gitu dong Wang… kan kita satu tim…”

Agak lama Awang baru menjawab.

“Aku mau maafin asal kamu ceritakan taruhan apa yang kalian lakukan sebenarnya”

Andre menengok ke Andra meminta persetujuan. Andra menganggukkan kepala pelan.

“Begini Wang… kami bertaruh siapa dulu yang berhasil … mmmm….” Andre agak ragu karena melihat Rudi bule ada di situ.

Rudi jadi tidak enak hati berdiri.

“Rud, kamu jangan pergi. Jadi saksi…” kata Awang tegas.

Rudi duduk lagi.

“Kami bertaruh… siapa dulu yang bisa menegak air mani kamu dia yang menang..” jelas Andre.

Air muka Rudi agak berubah tapi kembali seperti biasa.

“Apa taruhannya?” tanya Awang lagi.

“Yang kalah akan terjun dari batu payung tiga kali dengan telanjang bulat”

Batu Payung adalah salah satu lokasi di Green Canyon. Lokasinya ada di ujung rute yang bisa dilalui oleh perahu. Batunya berbentuk membulat. Di lokasi itulah para wisatawan yang berenang biasa terjun.

“Ha.. ha ha ha ha… hahahaha…….” Awang tertawa dari tertahan hingga lepas.

Andre jadi khawatir dan mengeluarkan ekspresi bingung sambil menunggu tawa Awang reda.

“Ha ha ha ha… kalian memang bodoh… mempermalukan kalian sendiri.. ha ha ha ….”

“Tapi ini artinya kamu memaafkanku … memaafkan kami … kan Wang?” tanya Andre khawatir.

“Ya… ha ha.. tentu saja….”

Kini Awang menyambut tangan Andre dan memaafkan. Andre memeluk Awang tanda persahabatan kembali. Namun tanpa diketahui Awang, Andre mengangkat jempol dan mengerlingkan mata pada Andra. Rudi Bule melihatnya.

***

Setelah sarapan rames yang dibeli Beni, Awang terserang kantuk yang amat sangat. Sementara si kembar dan yang lain berbelanja di seputar Pangandaran. Rudi tidak ikut. Jadi tinggal berdua Awang dan Rudi saja yang tidak pergi. Mereka tiduran.

“Semalem kamu beneran diisep ma si Andra?” tanya Rudi bule yang berbaring di sebelah Awang.

“Iiiyaaa…” jawab Awang malas.

“Kamu naksir mereka Wang?”

“Iiiyaaa…” Awang hampir saja terlelap.

“Kalau sama aku…?”

Agak lama Awang tidak menjawab. Rupanya benar-benar telah terlelap dalam tidurnya.

Rudi agak kesal karena ditinggal tidur Awang. Namun dia juga merasa beruntung bisa memandangi Awang yang ganteng dan sangat macho.

***

Awang terbangun kaget. Segera terasa ada yang memegang kelaminnya, mengenggam tepatnya. Ya, itu si Rudi. Di tangga terdapat berisik, sepertinya tim Gay Backpacker sudah pulang dari jalan-jalan siangnya. Segera Awang menarik tangan Rudi, agak susah.

“Rud… tanganmu Rud…” ujar Awang menggoncang Rudi yang sedang tidur.

Rudi menarik tangan tepat sebelum pintu terbuka.

“Jiiaaahhh yang asik kelonan siang-siang…” itu suara si Beni.

“Enak Rud…?” sindir Deff yang pernah mengerjai Awang sewaktu pertemuan pertama.

Awang dan Rudi bangun.

“Sekarang sudah jam setengah satu saat kita berangkat ke dermaga. Sebaiknya yang mau memindah koper segera saja. Oh ya Wang… kamu mau di kamar ini dengan Rudi atau tetap seperti pembagian yang sudah dilakukan..?”

“Eh… aku dapat sekamar sama siapa?” tanya Awang yang ketinggalan meeting tadi.

“Kamu dengan Zaky… dikamar 207” ujar Beni.

Awang tidak mau ada gosip baru dengan Rudi. Dia berdiri beranjak ke kopernya. Meski Zaky yang gendut tidak menarik baginya namun dia merasa ini lebih baik. Lagipula dalam Gay Backpacker ini sebetulnya Awang tidak mencari pasangan atau sekedar untuk sex. Awang benar-benar ingin wisata dengan cara backpack.

Sementara Rudi tampak agak kecewa dengan keputusan Awang yang memilih Zaky. Rudi dapat satu kamar dengan Beni. Mereka beramai-ramai menuju kamar masing-masing. Ternyata di kamar 206 adalah si kembar yang tak ingin dipisahkan. Sebelum masuk kamar Andra sempat mengerling sambil memberi info penting sambil setengah berbisik.

“Si Zaky tukang ngorok. Kalau kamu ga tahan… kamu boleh tidur dengan kami…”

Awang menganggap itu provokasi yang licik dengan menjelekkan teman sesama tim saja

***

Siang itu mereka menikmati perjalanan menembus hijaunya Green Canyon. Mereka menaiki 2 kapal kecil, 5 orang tiap kapalnya. Kali ini si kembar berpisah tujuannya bisa saling berfoto. Narsis juga mereka ini. Di ujung rute, kapal berhenti memberi waktu yang akan berenang dan river surf.

Siang itu tidak banyak rombongan. Saat mereka tiba ada 3 kapal yang bersiap hendak kembali ke dermaga dengan rombongan yang basah kuyup. Beberapa berjalan menyusuri sungai lebih jauh konon ada pemandian putri atau apa. Sebagian lain mulai melepas baju dan berenang. Mereka merasa agak bebas karena kini di tempat itu tinggal mereka dan tukang perahu yang semuanya pria.

“Ayyyyeeeeeeee……!!!!!” terdengar teriakan keras

Byuuurrr… terjeburlah tubuh besar yang telanjang bulat seperti bayi. Yaa itu pasti si Andre yang kalah taruhan. Andre muncul dari dalam air dan berenang ke arah batu. Itu batu payung, Awang baru menyadarinya.

Tanpa malu Andre kembali berdiri di atas batu payung telanjang bulat.

“Wooyyy jangan difoto ya….!! Nanti kena UU pornografi neh…”

Andre terlambat karena Beni sudah membidik dengan lensa telenya. Sementara dari belakang Andre ada Nando mendekat. Dia hanya memakai celana thong warna kuning menyala. Nando mendekat dan memeluk Andre dari samping. Dia melakukan gerakan erotis menggosok tonjolan kontol ke paha Andre. Sekali lagi kamera tele Beni berbunyi klik. Aldi, Hendra dan Deff yang antri di belakang mereka hanya tertawa-tawa saja. Andre segera membebaskan diri dan terjun. Jebuuurrr….

Nando menyusulnya. Jeburr… Aldi dan Hendra meloncat bersama. Sementara Deff yang melihat Batu Payung terlalu tinggi akhirnya membatalkan untuk terjun.

“Sudah dua kali ya…” teriak Andre kepada Andra yang tertawa-tawa melihat saudaranya malu berenang telanjang.

Andra mengenakan celana berenang biru yang modelnya asik. Sepertinya itu pernah ditawarkan di internet… Manswear atau apa… Andra menenteng yang warna hijau muda, pasti itu milik Andre.

“Andree tunggu…” tanpa malu Nando ikut bertelanjang mengejar Andre.

Kontol Nando tegang bergoyang-goyang. Andre yang dikejar tampak tambah ngeri saja. Dia meloncat dari batu ke batu. Awang dan teman-teman yang menyaksikan hanya tertawa-tawa saja. Setelah mencapai puncak batu payung Andre segera menceburkan diri lagi sebelum dipeluk Nando.

“Tolooonggg…” teriak suara yang dipastikan itu Nando dari belakang Batu Payung.

Segera saja rombongan yang berada di daerah itu panik dan mendekati suara.

“Beni!, Nando jatuh Ben…!” teriak Andra yang membawakan celana thong Nando.

Beni segera meletakkan kamera tele di kapal dan mencari jalan kering ke arah tempat Nando kecelakaan. Mulailah kehebohan itu.

***

Nando sepertinya patah lengan kiri dan harus dibawa ke rumah sakit terdekat. Beni sebagai ketua sangat bertanggung jawab. Setelah tugas ketua dialihkan kepada Pak Doni, dia yang paling tua di antara kelompok dan sudah berkeluarga, Beni mengantar Nando yang lengannya menggantung. Ada kemungkinan besar patah. Tentu saja tidak lagi mengenakan celana thong. Tapi tadi sewaktu memakai celana sempat dibantu Awang. Kontol Nando tidak bisa lagi tegang, mukanya pucat meski tidak sakit katanya.

Kelompok yang lain dengan dipimpin Pak Doni melanjutkan perjalanan ke Batu Hiu untuk menikmati Sunset. Di perjalanan beberapa kali mereka mengulang kisah jatuhnya Nando. Setelah makan seafood di sekitar pantai mereka kembali ke hotel. Selama perjalanan Rudi tidak menyapa Awang. Mungkin dia masih kecewa.

***

 
1 Comment

Posted by on 21 February 2011 in Bebas

 

Tags: , ,

One response to “Gay Backpacker 2

  1. andi

    26 December 2011 at 14:43

    aduh kasihanx boleh ngga sy minta nomo hpx andre, andra, nando dan yg lainx boleh ya…. ini nomor hp ku 0852617331xx sy tunggu informasi dr kalian ya….

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: