RSS

Gay Backpacker 1

21 Feb

Awang ingin sekali sesekali berpergian cara backpack. Sewaktu dia browsing tentang tema ini di internet dia menemukan Gay Backpacker artinya Backpack dengan kawan seperjalanan adalah para gay. Semula Awang ragu. Meskipun dia bisex namun dia meragukan kalau-kalau teman seperjalanan adalah para banci.

Awang nekat mendaftar untuk berpergian ke Green Canyon di Pengadaran, Jawa Barat. Teknikal meeting diadakan di fx plasa. Setelah tiba di lokasi yang disebutkan dia sempat ragu karena tidak ada kumpulan banci yang ada adalah satu keluarga beserta anak yang masih balita dan lima orang pria seperti eksekutif muda. Awang memutuskan mendekati yang kedua.

“Kamu Awang Rubendirja, ya…”

Ujar seseorang dari grup itu sambil mengulurkan tangan.

“Aku Beni”

Yah, wajahnya agak lain dari yang ada di internet. Tapi memang kurang lebih seperti Beni. Umur mendekati 30an dan berkacamata. Wajahnya tampak lebih tua dari umur sebenarnya. Tak beda seperti lelaki kebanyakan dan tidak ada sorot atau tingkah kebancian.

“Ini Rudi, lalu Doni, lalu Def dan gendut si Zaky” Beni memperkenalkan teman yang bersamanya.

Si pemilik nama mengulurkan tangan ke Awang dan mereka berkenalan.

“Jadi kita masih menunggu Nando, Aldy, Hendra, Roby, dan si kembar Andre dan Andra”

“Roby ga jadi ikut bos” sela Rudi yang rambut bercat pirang.

“kenapa?”

“Katanya saudaranya ada yang mendadak pulang dari luar negri”

“Halah, paling bfnya tuh”

Lalu disambut saling senyum. Yah paling tidak mereka kini sudah sepaham dan mengerti keadaan masing-masing. Beni sebagai ketua memang pintar mengakrabkan apalagi buat anggota baru seperti Awang. Paling tidak dia tidak merasa asing namun merasa bahwa dia ada di kumpulan yang sama.
***

Limabelas menit kemudian mereka menuju ke sebuah kafe yang menyediakan meja besar. Bersepuluh memesan makanan dan minuman masing-masing untuk mereka makan bersama satu meja.

“Sambil makan saya akan jelaskan tentang Grand Canyon” Beni tidak menyia-nyiakan waktu.

Grand Canyon adalah sebuah kawasan di Pengandaran, Jawa barat. Sebenarnya namanya adalah Cukang Taneuh tapi karena lokasinya yang hijau bahkan kadang airnya juga hijau dan banyak ngarai-ngarai indah maka dinamakan green canyon. Lokasi ini sudah banyak jadi wisata yang menarik bagi banyak wisatawan mancanegara maupun dalam negeri.

“Kita, akan berkumpul di terminal kampung rambutan dan berangkat ke Ciamis jam 8 malam. Jadi kumpulnya pasti sebelum itu” kalimat Beni yang terakhir disambut gumaman beberapa orang.

Sementara pesanan masing-masing mulai datang. Awang mengamati teman-teman barunya. Mereka sama seperti dirinya. Dia jadi agak curiga kalau-kalau sebenarnya mereka adalah orang biasa yang membutuhkan dirinya sebagai bahan tertawaan. Ah, tapi segera ditepis angan yang tidak beralasan. Awang merasa nyaman di tengah teman-teman barunya. Mereka macho tapi dia yakin di dalam diri mereka juga membutuhkan kehangatan laki-laki lain seperti dirinya.

Awang sangat tertarik membandingkan si kembar Andre dan Andra. Tubuh mereka bagus dalam balutan t-shirt ketat. Badan yang kekar dan rambut yang pendek dan potongan yang sama. Mereka mirip tapi berbeda. Awang berusaha mengidentifikasi keduanya. Membedakan mana Andre sang kakak dan Andra yang adiknya. Tiba-tiba pikirannya beralih betapa hangat berada dalam dua pelukan mereka berdua.

Awang baru menyadari kalau dia sudah bengong.

“Ya… ada apa?”

Awang bertanya saat Doni atau Def yang di sebelah kirinya menyenggol lengan. Lalu berbisik,

“Kamu bi atau gay.. sudah punya bf apa belum?”

Awang segera menjawab, “bi dan masih sendiri”

Beni yang sedang mendata jadi bingung. Lalu meledaklah tawa semua yang di meja itu. Awang yang jadi bingung sendiri. Def yang di sebelahnya menepuk dan merangkul dan berkali kali bilang sori… tapi masih saja tertawa.

Tawa mulai mereda.

“Memang kami semua ganteng-ganteng, tapi ga usah terkesima gitu deh… tadi aku sedang mendata nama dan alamat kontak serta orang yang bisa dihubungi kalau terjadi sesuatu”

***

Hari keberangkan pun tiba. Bulan April minggu kedua, beberapa hari setelah teknikal meeting. Musim hujan diharapkan telah berlalu. Mereka memilih hari jumat malam dengan harapan pada Sabtu siang belum banyak wisatawan. Tidak sebanyak hari Minggu siang.

Di perjalanan, Awang kebagian duduk dengan salah seorang dari si kembar, yaitu Andre. Tinggi 180 berat 80 badan Andre tampak gempal dan berotot. Pekerjaannya karyawan Bank swasta di Thamrin sedang adiknya sudah jadi manajer di sebuah perusahaan asuransi. Tidak banyak yang diceritakan karena mereka diingatkan untuk istirahat selama perjalanan. Waktu yang terbatas harus dipakai dengan benar. Ya, mungkin setelah pulang dari Pangandaran nanti bisa lebih akrab dengan Andre. Tapi paling tidak kali ini bisa menikmati duduk bersebelahan dengan Andre.

“Kamu beneran belum punya pacar, Wang?”

“Kenapa emangnya?”

“Yaa gapapa sihhh… cuma orang seganteng kamu apa ga banyak yang naksir?”

Haha… si Andre ini pandai bercanda juga.

“Lah kok senyum gitu… beneran loh… wajah kamu yang oriental itu menarik”

“Justru kamu tuh kale yang pacarnya banyak. Badanmu kan keren…” ujar Awang sambil menyentuh dada Andre yang kencang padat dan menggelembung.

“Eit.. sentuh-sentuh. Nanti horny baru tau…”

“Ssstt… jangan keras gitu ah..” Awang merasa tidak enak dan melirik ke sebelah kiri.

Mereka duduk di sisi kanan, kursi nomer berapa dari depan. Bis yang ditumpangi adalah bis AC eksekutif. Meskipun backpack tapi mereka tidak mengutamakan penghematan. Backpack demi kepraktisan saja tanpa mengurangi kenikmatan berlibur. Bukan harus bersusah payah karena uang terbatas, begitu prinsipnya.

Awang takut penumpang lain tau kalau mereka adalah kelompok penyuka sesama. Padahal kalau tidak takut, candaan seperti itu sudah biasa bahkan antara lelaki normal. Lalu mereka diam. Sempat tertidur beberapa menit hingga Bus berhenti di sebuah tempat di luar kota Bandung. Bus akan beristirahat setengah jam untuk makan malam.

Awang dan Andre ikut bangun, juga Zaky si gendut yang paling mudah lapar. Awang menuju ke toilet sebelum makan. Sambil menyadarkan diri dia membuang simpanan air kencing yang dari tadi sudah memenuhi kantung kencingnya. Meskipun di bus ada toilet tapi tetap tidak enak kencing dalam keadaan goncang begitu.

“Ssst gede juga…” bisik orang di samping Awang

Awang sempat kaget ternyata itu Andre. Awang mau tak mau jadi membalas melirik kontol Andre. Tersunat rapi dengan jembut yang dipotong pendek. Kontol Andre juga nampak besar dalam keadaan setengah tegang begitu.

Awang tidak menanggapi dan membasuh kontolnya sebelum menyarungkan kembali ke CDnya. Kebiasaan membasuh kontol dari air seni termasuk sunah nabi. Lagi pula ini akan menjaga penampilan pada lawan main yang suka oral. Ya, tentu biar kontol tidak berbau terlalu pesing. Awang ke penjaga toilet dan mengeluarkan dompet. Lalu merogoh saku-saku celananya.

“Pakai ini saja, Wang…” kata Zaky dari belakang saat mengetahui Awang kesulitan mendapatkan uang kecil membayar jasa toilet.

“Makasih ya Zak…”

Awang dan Andre berdua menuju ke restoran.

Akhirnya Awang dan Zaky memilih satu meja untuk makan. Zaky makan nasi rendang dan masih memesan satu porsi mi rebus. Sedangkan Awang hanya makan nasi telur saja. Sementara mereka makan Andre dan Andra bergabung dengan membawa porsi besar sate kambing. Mungkin berisi 30 atau 40 tusuk sate.

“Sate tanpa lemak loh…” ujar Andra.

Awang akhirnya baru mengetahui kalau Andre dan Andra adalah pemilik sebuah gym di daerah Jakarta Barat. Gym mereka cukup rame. Konon cerita banyak gay yang suka ngegym di sana. Jadi siangnya kerja sedang malam mereka di gym.

“Ya sambil menyelam minum air… sambil ngegym dapet duit jajan” ujar Andra merendah.

Awang jadi salut pada teman barunya ini. Selain mereka bekerja keras mereka juga menikmati hidup. Buktinya mereka ada dalam kelompok backpacker. Awang yakin kalau mau bawa mobil sendiri Andre dan Andra tidak kesulitan. Namun mereka ingin menaklukan tantangan dan bukan dibuai kemewahan hasil usaha mereka.

Andra banyak bercerita bagaimana harusnya Zaky merubah pola makan biar tetap sehat. Berolahraga agar membentuk badan yang lebih baik. Si Zaky hanya iya dan iya sambil tetap menghabiskan mi rebusnya.

“Yuk kita naik lagi…” ajak Beni ketua backpack yang mendekati meja Awang.

Awang naik paling terakhir dan langsung bus berjalan. Rupanya sopir bus menjadi menjadi kesal karena rombongan Awang terlalu lama tidak naik. Meski tidak dikatakan namun ketahuan dari cara menyetir yang di gas keras seperti itu. Andre terhempas ke tempat duduk disusul Awang. Mulut Awang mendarat di pipi Andre.

Rupanya hampir saja Bus menabrak pengendara motor. Untung saja sopir cukup berpengalaman dan segera bus dapat dikendalikan kembali.

“Wang… sudah ya.. ciumnya…” Andre mendorong dada Awang pelan supaya menjauh.

Entah sengaja atau kesempatan dalam kesempitan Awang menempelkan pipinya di pipi Andre. Untung saja penumpang lain juga sibuk memperhatikan motor yang hampir tertabrak jadi tidak tahu kalau ada insiden ciuman.

Setelah jeda diam yang cukup lama. Pengemudi pun sudah mulai mengendalikan diri lagi.

“Kamu punya bf, Wang?”

“Ih kok nanya lagi sih… Ga punya!” kata Awang agak ketus.

“Yah.. kok gitu… awas nti cakepnya nambah loh…”

“Hmmm kamu ini ya… ” sengaja Awang mengangsurkan tangan mencubit pinggang Andre.

Andre mengelak sedikit terlonjak. Setelah reda Andre menyusupkan tangan kiri ke pinggang kiri Awang. Awang diam saja. Walau Andre baru dikenal tapi dia mau saja dan nyaman rasanya. Untung malam itu cukup gelap dan penumpang sebelah-sebelah banyak yang tertidur.

Andre mendekatkan hidungnya ke telinga Awang dan menciuminya. Awang menggeliat kegelian tapi tidak menolak. Tangan kanan Awang mengelusi paha kiri Andre. Awang menengok ke arah Andre dan mendapati bibir Andre. Mereka berciuman dalam pelan namun tidak berani terlalu lama.

“Wang… mau aku istong gak?” tanya Andre

“Apaan?” Awang bingung

“Aku isep otong kamu…” Lalu Andre tersenyum.

Tangan Andre meraba-raba daerah selakangan Awang dan benar ternyata otong si Awang sudah keras berdenyut.

“Nanti aja di hotel ya…” tolak Awang yang sebenarnya ingin tapi tak mau penumpang bus jadi heboh.

Andre begitu terampil… sebentar saja kontol Awang sudah digenggam dan dikeluarkan. Untung bus AC ini menyediakan selimut untuk setiap penumpang. Tanpa disuruh lagi langsung saja Andre menunduk dan tiduran di paha Awang sambil menjilati kontol Awang. Posisinya agak susah dijelaskan tapi mereka bisa melakukannya.

“ssshhh…. Ndree…” tangan kiri Andre langsung saja ke arah bibir Awang yang mendesis nikmat. Maksudnya menyuruh diam.

Mulut Andre yang hangat dan licin menyarungi kontol Awang yang tegang dan keras. Lidahnya bermain memutar-mutar membuat Awang tak tahan hingga menjambak rambut Andre. Awang tidak bisa lagi menahan nafsunya.

Andre begitu terampil mengocok dan membuat Awang segera mencapai puncaknya. Seluruh mani ditelan tandas. Setelah itu kontol Awang mengkerut. Tapi tetap saja Andre mengisap-isap kontol Awang yang sudah terasa pegal. Hingga kontol Awang kembali menegang. Inilah teknik isapan kering yang menjadikan kontol yang diisap tetap bersih.

Sesudah itu keduanya tidur. Andre rebah di bahu Awang dan Awang menyandarkan di kepala Andre.

***

Jam 5 lebih sedikit matahari belum muncul. Awang dibangunin padahal sedang nyenyak sekali tidurnya.

“Wang, bangun… sudah sampai…”

“Iya Ndre…”

“Ah kamu ini dari semalam Ndre Ndre mulu… aku ANDRA”

Awang bergegas menyadarkan diri. Penumpang lain sudah mulai berdiri dan mengurusi barang bawaan masing-masing.

Awang turun dengan kebingungan… jadi siapa yang semalam isap? Ataukah dia hanya mimpi? Tapi kenikmatan itu begitu nyata.

 
Leave a comment

Posted by on 21 February 2011 in Bebas

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: