RSS

Bertemu Pria-Pria Venus

07 Feb

Bertemu Pria-Pria Venus

Ini dunia yang tengah berevolusi. Kaum lelaki tak lagi merasa cukup ganteng dengan otot-otot menonjol ala Ade Rai. Mereka merasa perlu tampil lebih indah, terawat, lembut, serta seksi menantang. Ini zaman metroseksual, Bung!

Mau bukti? Perkenalkan Aditya Tumbuan. Lelaki 31 tahun ini beken sebagai peramu cakram (disc jockey—DJ) di berbagai kafe ternama Jakarta. Sehari-hari dia tampil menawan dengan rambut berpotongan landak dicat warna-warni. Kemeja ketat, yang dua kancing atasnya dibiarkan lepas, bermotif unik membalut tubuhnya yang berisi. Setiap kali melangkah, Aditya menebarkan aroma wangi Comme des Garcons, parfum yang cuma dijual di London. “Jujur saja, saya memang suka orang merhatiin diri saya,” kata putra pasangan selebriti Rima Melati-Frans Tumbuan ini.

Komentar serupa bisa Anda dapatkan bila berbincang dengan cowok-cowok trendi yang lain. “Gua suka aja tampil keren, rapi, bersih, dan wangi,” kata Ferry Salim, 37 tahun, aktor yang masyhur dengan wajahnya yang mulus bersinar. Bapak dua anak ini tak lupa mengoleskan pelembap dan tabir surya untuk melindungi kulitnya dari sengatan lampu syuting. Menjelang tidur, dia tak lupa membersihkan dan membubuhkan krim penyegar di wajah. Belum cukup, Ferry rutin membersihkan muka (facial), merawat rambut (creambath), serta merapikan kuku kaki-tangan (manicure-pedicure).

Seperti Ferry dan Aditya, David Beckham, ikon terbesar dalam dunia metroseksual, pernah berucap, “Saya suka menjadi pujaan.” Pemain bola papan atas ini oke-oke saja mengenakan celana dalam merah jambu berenda milik istrinya, Victoria Posh, penyanyi dan mantan anggota Spice Girls. Kukunya dicat merah jambu, dandanan rambutnya diubah hampir tiap minggu, dan dia tak segan berpose untuk majalah gay Attitude. Bagi Beckham, bukan soal jika pemujanya adalah kaum gay atau perempuan.

Narsisistik memang naluri inti metroseksual. Pertama kali istilah ini dimunculkan oleh Mark Simpson dalam tulisan di koran Inggris, The Independent, 1994. “Metroseksualitas tak lebih dari gaya dandan pria di media massa,” tulis Simpson. Lembar-lembar majalah dipenuhi iklan dengan sosok laki-laki muda dengan baju serta sederet aksesori yang trendi dan tentu saja supermahal—sosok yang merangsang pembaca, terutama pria muda, untuk menatapnya dengan gairah campur cemburu. Simpson mengambil analogi narcissistic dari mitologi Yunani tentang pemuda yang terpesona menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan air kolam.

Belakangan, pengertian metroseksual berkembang. Bukan lagi sekadar sosok iklan di majalah, metroseksual kini adalah tipe laki-laki tajir, hartanya banjir, dengan hidup bergerak menjangkau kota-kota metropolis—kota-kota besar yang menyediakan segala yang terbaik, klub, toko, spa, salon, butik, penata rambut, juga restoran. Mereka inilah padanan selaras bagi wanita metroseksual, yang sosoknya diwakili para bintang serial Sex and the City.

Sebagian pihak memang menilai metroseksual tak lebih dari sekadar trik pemasaran, seperti yang diungkapkan Samuel Wattimena, perancang busana. Alasannya, “Pria yang peduli penampilan kan sudah lama ada,” katanya. Samuel sendiri sudah gemar melakukan perawatan tubuh saat masih di SMA. “Kok, baru sekarang diributin?”

Benar, lelaki yang peduli perawatan bukan soal baru. Tapi memang ada perubahan signifikan pertanda makin kuatnya unsur Venus dalam diri kaum lelaki. Salon.com menulis, pada 1970-an para lelaki dilingkupi suasana serba maskulin dengan idola Charles Bronson. Pada 1980-an, kumis lebat mulai dicukur, meskipun idola masih bertahan pada sosok macho. Satu dasawarsa berikutnya, minat para pria bergeser ke perawatan wajah dan parfum. Terakhir, mereka melirik perawatan kuku kaki-tangan ditambah spa plus pijat refleksi. Idola pun kini bergeser ke sosok kasual seperti Ian Thorpe, Brad Pitt, Beckham, dan Pat Rafter.

Orientasi seksual? Beberapa tahun lalu, pria yang rajin merawat diri bisa dengan sewenang-wenang diberi label gay. Tapi, saat ini, laki-laki bukan gay tanpa ragu mengunjungi salon kecantikan.

Pertengahan tahun lalu, Euro RSCG Worldwide, yang bermarkas di New York, melansir hasil survei menarik dengan responden para lelaki berusia 18-40 tahun. Lelaki metroseksual, berdasarkan hasil survei, adalah juga pria heteroseksual alias laki-laki tulen. Memang mereka tak sungkan menampilkan sisi sensualitas sehingga bisa jadi mereka diidolakan oleh perempuan dan kaum gay sekaligus.

Makin kuatnya unsur Venus dalam soal perawatan diri para pria juga menandai perubahan yang tidak sepele. Beckham, yang perkasa di lapangan bola, dengan enteng melakukan ritual yang sudah lama melekat pada kaum perempuan—sebuah bukti bahwa pria tak lagi ragu menjebol batas-batas gender. “Sebetulnya kaum metroseksual inilah pendobrak kode-kode maskulinitas,” kata Dr. Andrew Parker, sosiolog dari Universitas Warwick.

Tapi tunggu dulu. Jangan keliru. Tampil wangi dan dandy saja belum cukup menjadikan seseorang layak menyandang predikat laki-laki metroseksual. Surya Paloh, salah satu kandidat presiden dari Partai Golkar, misalnya, dikenal tak ragu membelanjakan jutaan rupiah untuk perawatan tubuh dan pemilihan busana. Hal yang sama terjadi pada Menteri Kehakiman Yusril Ihza Mahendra dan Pengacara Ruhut Sitompul.

Bambang Prihantoro, perancang busana, menjelaskan mengapa sosok seperti Surya Paloh belum bisa disebut sebagai lelaki metroseksual. “Gayanya masih konservatif,” kata Bambang, yang juga pemilik Populo di Kebayoran Baru, butik yang menjadi rujukan kaum pria trendi di Jakarta.

Bambang, yang akrab dipanggil Ba’i, menambahkan bahwa pria metroseksual harus berani bereksperimen dengan fashion. Eksperimen inilah yang bakal menentukan warna seseorang yang muncul ke permukaan. Jay Subiakto, sutradara klip video, misalnya, jauh-jauh hari sebelum istilah metroseksual mengemuka, berani tampil dengan rambut panjang yang terawat rapi dan baju yang pas badan. Penyanyi Marcell juga tak ragu tampil dengan rambut keriwil-keriwil yang kadangkala dibuat basah (wet look). Lihat juga gaya Taura Sudiro (pemeran Sakti dalam film Arisan!) yang menyala dengan busananya yang bergaya.

Pada akhirnya, menurut Aditya Tumbuan, jurus metroseksual memang tak lebih dari survival of the fittest. Ketika dunia makin kompetitif, orang berusaha untuk menjadi spesial dan punya karakter tersendiri. “Kalau enggak, kita kelibas,” kata Aditya.

Yudha Budhisurya, pemilik Soho, butik papan atas yang berlokasi di Dharmawangsa Square, Jakarta, sepakat dengan pendapat Aditya. Menurut dia, metroseksual adalah evolusi sosial, bukan sekadar tren yang akan sirna suatu saat. Bahwa banyak orang salah paham, menganggap ini cuma keganjenan sesaat, itu juga menjadi bagian dari proses.

“Tidak gampang, lo, jadi metroseksual,” katanya. Perlu kepribadian dan rasa percaya diri yang kuat. “Kalau enggak, mana berani dia tampil”macem-macem,” kata Yudha, yang kali ini berbusana serba hitam, baju pas badan, celana ketat, dan sepatu kulit berujung runcing. Kulitnya yang putih dengan rambut dicat pirang jadi terlihat sebagai aksen mencolok.

“Ada syarat lain yang perlu diperhatikan,” kata Yudha. Cowok metroseksual mesti banyak baca, pintar, dan punya selera. “Biar bisa ngedapetin penampilan yang oke,” katanya. Penampilan oke bukan selalu berarti yang mahal, tapi juga padu-padan dengan barang bagus tapi murah, bahkan dengan barang langka yang didapat di pasar loak.

Yudha membenarkan, semakin hari fenomena metroseksual di Indonesia terasa kian kuat. Salah satu penandanya, baju pria koleksi Soho—yang dipesan langsung dari perancang di pusat mode di New York, Milan, Tokyo, dan Paris—selalu habis diserap pasar. Padahal, namanya juga produk perancang kelas dunia, pastilah baju-baju plus aksesori di Soho berharga jutaan rupiah. Suatu saat nanti, Yudha yakin, “Separuh lelaki Indonesia akan menjadi pria metroseksual.” Mau taruhan?

 
Leave a comment

Posted by on 7 February 2011 in Bebas

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: