RSS

The Snooker Game

01 Feb

Kegemaranku kebetulan termasuk olahraga yang santai, aku lebih suka bermain snooker, bisa termasuk didalamnya bowling, dan sejenisnya daripada olahraga yang lebih banyak mengeluarkan banyak tenaga. Seperti biasanya aku sering bermain snooker bersama teman-teman di tempat biasa, di mall. Kami sudah menjadi langganan dan selalu mengunakan meja yang sama ketika bermain.

Seperti biasa, setiap Sabtu Minggu selalu ramai didatangi orang-orang yang gemar bermain snooker, demikian halnya hari ini yang jatuh tepat pada Minggu.

Akan kuceritakan sedikit tentangku, wajah biasa sebab tak bisa dibilang jelek dan tak bisa dibilang terlalu keren, badan kurus dan tubuhku krisis bulu, dari bagian bahu sampai kaki cuma bagian kemaluanku yang ada bulunya, rambut cepak, tak terlalu tinggi, juga kebiasaanku adalah berpenampilan asal-asalan sesuai mood, aku lebih suka memakai T-shirt dan Jeans, karena
menurutku itu pakaian yang paling santai, aku seorang warga keturunan. Aku seorang bisex tapi lebih suka melihat cowok keren dan cute.

Aku dan tiga temanku mulai bermain, selang beberapa saat meja yang kosong di sebelah kami telah di isi oleh tiga cowok. Aku terus saja menikmati permainan demi permainan tanpa memperdulikan kedatangan tamu di sebelah. Pada saat giliranku melakukan shoot, aku mulai mengambil ancang-ancang untuk mulai menyodok bola putihku kesasaran, dan tiba-tiba sebuah stick menyodok pantatku, emosi mulai membara, kemudian aku menghadapi si penyodok, yang ternyata salah satu dari tiga cowok yang ada di sebelah kami. Dia mulai meminta maaf, saat aku menatapnya dengan marah. Emosiku menghilang sesaat aku menatap sosok keren yang ada di depanku, dia cowok keturunan juga. “Sudahlah, lupakan saja, lain kali hati-hati dengan stickmu,” kataku.

Sejak saat itu aku jadi tidak konsentrasi sama permainan kami, mataku tak henti-hentinya menatap
sosok tinggi, putih, wajah cute dengan rambut cepak dan badan yang bisa dikategorikan kurus. Dia juga dengan takut-takutnya melirik ke arahku. Akhirnya permainan selesai dan kamipun membayar lalu pulang. Aku kembali menatap cowok keren itu untuk terakhir kalinya malam ini, ‘kapan saya bisa bertemu dengannya lagi?’ batinku.

Seminggu kemudian aku kembali ke tempat biasa bermain snooker, tapi kali ini sendirian, karena aku berharap dapat bertemu cowok itu lagi dan berbincang lebih banyak, ternyata sesampaiku di sana cowok yang aku harapkan telah berada di sana. Kali ini dia juga sendirian. Kupikir inilah kesempatanku untuk mengenal dia lebih jauh. Lalu akupun mengambil meja di sebelahnya. Kali ini aku mencari kesempatan untuk membalas menyodok pantatnya. Dan ternyata kesempatan itu datang dan aku lancarkan aksiku, aku mendapat apa yang aku inginkan, dia marah dan mulai membalikkan badan untuk melihat si penyodok. Aku menatap matanya dan tersemyum kepadanya. Kemarahannya juga memudar ketika melihatku, “Eh, kamu, mau membalas dendam ya?” candanya.
“Iya” jawabku, sambil mengulurkan tangan sambil berkenalan, akhirnya aku mengetahui namanya,
Donny, dan umurnya 18 tahun lebih muda 1 tahun dariku.

“Boleh bergabung?” tanyaku.
“Silakan” jawabnya dengan senyum manis. Kemudian kami sama-sama bermain sambil berbincang dan
bercanda.
“Kenapa datang sendirian?” tanyaku.
“Kebetulan teman-teman saya lagi pada sibuk” jawabnya, “Kamu sendiri?” lanjutnya.
“Aku sengaja datang sendiri agar bisa bertemu denganmu dan berbincang tanpa diganggu teman-temanku” jawabku. Dia sedikit terkejut, “Untuk membalas dendam padamu,” lanjutku dengan nada bercanda. Diapun tertawa.

“Yuk, cabut yuk,” ajakku saat kulirik jam tanganku yang menunjukan pukul 19.15, dan kamipun pergi dari tempat itu. “Makan dulu yuk, biar aku yang traktir sebagai tanda perkenalan kita” ajakku, dia ngangguk tanda setuju, mungkin aku memberikan alasan yang tepat. Kamipun makan sambil melanjutkan perbincangan kami, dan waktu telah menunjukan pukul 21.00, dan kamipun
beranjak dari sana.

“Kamu pulang naik apa?” tanyaku.
“Jalan kaki, rumahku dekat dari sini” jawabnya.
“Aku antar saja, aku ada mobil kok,” ternyata dia menerima tawaranku. Kamipun beranjak ke tempat parkir mobil di mall tersebut.
“Di mana rumahmu Don?” tanyaku.
“Nanti biar aku yang menunjukan jalan aja deh” jawabnya.
“Oke Boss” balasku. Dia tersenyum manis.

Akhirnya kami sampai juga, rumahnya, lumayan bagus tidak terlalu besar. Dia menawarkanku untuk mampir sebentar, dan langsung saja aku menerima tawarannya.
“Kamu tinggal sendiri, Don?” tanyaku.
“Iya, karena orang tuaku tinggal di luar negeri” jawabnya. Ternyata dia anak orang kaya, tapi dia memcoba hidup mandiri di rumah yang tidak terlalu besar ini. Sisa uangnya ditabung dan di gunakan untuk biaya kuliah. Dia sengaja seperti itu, agar teman-temannya tidak berteman dengannya hanya karena materi.

“Mau minum?” tawarnya.
“Nggak usah merepotkan, tadi kan baru makan, masih kenyang,” tolakku dengan halus.
Kamipun nonton TV sambil ngobrol. Jam sudah menunjukkan pukul 22.30 dan akupun pamitan pulang.
“Udah tidur di rumahku aja, lagian sepi banget, kalau ada yang temanin kan lebih asik” tawarnya disertai alasan. Akupun langsung mengiyakan, ‘ini yang aku tunggu-tunggu’ batinku. Langsung aku telpon ke rumah buat ngabarin kalo aku nggak pulang malam ini.

Lalu kamipun langsung ke kamarnya, “Gimana, aku nggak punya baju tidur nih” kataku menunggu respon. “Kamu bisa pakai bajuku kok kalau mau” tawarnya.
“Aku mau mandi dulu ah, agar lebih enak tidurnya,” kataku, itu merupakan kebiasaanku mandi malam-malam. Akupun mengambil handuk yang ditawarkan sambil pergi mandi. Aku membalutkan handuk sambil berjalan menuju kamarnya yang cukup luas buat dua orang. Lalu akupun mengambil pakaiannya. “Aku juga pergi mandi dulu deh, mana tahu lebih segar dan enak tidurnya seperti yang
kamu bilang,” katanya sambil berlalu ke kamar mandi.

Diapun kembali dari kamar mandi hanya memakai CD, akupun tertegun menatapnya sambil timbul rasa
penasaranku dengan apa yang ada di balik CDnya.
“Hush, kok bengong?” serunya memecahkan lamunanku.
“Aku biasanya tidur hanya dengan CD, lebih leluasa,” lanjutnya.
Diapun menghampiriku yang sudah duluan berbaring di masterbed itu. Kamipun tidur dalam satu selimut. Dia mengambil remote AC dan menurunkan temperaturnya.
“Cukup, nanti kedinginan” kataku.
“Nggak papa, kan ada kamu, aku bisa memelukmu kalau dingin,” lanjutnya dengan muka tersenyum nakal.
“Enak aja, emang aku ini bantal” candaku.

Aku tidur membelakanginya. Setelah selang beberapa saat, tiba-tiba Donny menyilangkan tangannya ke pinggangku, sambil terus merapatkan badannya ke punggungku dan semakin kurasakan barang di balik CDnya yang semakin membengkak. Aku biarkan aja, tapi nafasnya semakin terasa di belakang leherku yang membuatku makin horny. Tangannya mulai bergerak-gerak tak menentu keseluruh tubuhku, tangannya mulai masuk ke dalam T-shirt yang aku pakai dan memilin-milin putingku, mau tak mau aku mulai mengeluarkan desahan-desahan aneh. Dia sangat pintar dalam hal merangsang. akupun terbuai dalam permainannya.

Aku membalikkan tubuhku dan langsung saja mulutku disumbatnya dengan bibirnya. Donny sangat pintar bercumbu, akupun tak mau kalah dengannya, aku berusaha mengimbanginya, ciuman-ciuman panas kami mengalahkan dinginnya AC yang ada. Lidahku bermain-main di dalam mulutnya. Kurang lebih 3 menit bibir kami bersatu dalam adegan ciuman ini. Aku sangat menikmatinya, karena aku merasa ini adalah bagian yang paling romantis dalam ml. Diapun mulai mengecup pipiku dan menggerogoti leherku, ada perasaan sakit bercampur nikmat saat dia menggigit leherku. Aku sengaja bersifat pasif terlebih dahulu agar bisa memperhatikan apa yang akan diperbuatnya terhadap diriku, ‘dan ternyata anak ini pintar banget’ batinku.

Dia mulai melepaskan kaosku dan mulai menjilati putingku secara bergantian. aku menarik rambutnya yang pendek,
“Ah, shh, Don enak sekali, teruskan Don,” desahku.
Aku mengacak-acak rambutnya, walau rambutnya nggak bakal kusut. Setelah puas dengan mainannya dia mulai menurunkan kepalanya sambil menjilati perutku, yang membuat perutku mengkilat. Celanaku dilepaskannya dan tinggal CDku. Dia langsung menerkam penisku dan mulai menciuminya, dan berusaha mengulumnya, walau masih tersimpan dalam CD, dan lama kelamaan CDku mulai basah oleh air liur Donny. Dilepaskannya CDku, dan akhirnya aku sudah full naked dan langsung saja di
terkamnya penis yang dari tadi sudah tegang dan basah oleh precum dan ludah Donny.
“Oh, Don teruskan, masukan Don, Ssstt” aku menggigit bibir bawah sambil menahan kenikmatan yang tak pernah kurasakan selama ini.

Donny mengulum, melakukan kocokan dengan mulutnya. Donny sangat suka dengan mainan barunya. Aku
mulai merasa panas, tetapi Donny masih asik mengulum senjataku yang tak disunat itu. Aku mulai merasakan akan meledaknya penisku, aku menarik kepala Donny sambil menariknya ke atas dan membalikkan badannya, lalu akupun melumat bibirnya yang kemerahan dan seksi itu. Kami kembali terlibat dalam adegan ciuman yang cukup lama itu. Sekarang aku yang memimpin permainan panas ini, aku mulai menjilati telinganya dan memberikan gigitan-gigitan kecil ke telinga kirinya
itu, dia mengelinjang sambil mendesah “Shh..”

Aku mulai menelusuri lehernya dan menyedot lehernya, takut akan menbekas, maka langsung saja kuahlikan ke putingnya. Aku mainkan putingnya seperti yang dia lakukan terhadapku, nafasnya mulai memburu. “Jangan hentikan, enak sekali sayang” desahnya sambil menarik rambutku, ada sedikit perasaan sakit. Wangi tubuhnya terasa banget. Setelah aku puas dengan badannya, aku
mulai bergerak turun meninggalkan tubuh putih mulusnya. Aku yang dari tadi telah penasaran dengan barang yang ada di balik CDnya itu, mulai melorotkan CD yang menghalangi batang yang ada di baliknya. Sekarang aku bisa melihat dengan jelas penis putih seksinya yang dihiasi dengan bulu yang tidak begitu lebat, ukuran standar kurang lebih sama seperti punyaku, dia juga ternyata nggak disunat.

Aku yang dari tadi sudah nafsu dengan penisnya itu, langsung saja melahapnya, terasa asin akibat precum. Dia menggelinjang hebat dan tak henti-hentinya mendesah
“Ah, ah, sayang.”
Sambil terus menaik-turunkan kepalaku dengan gerakan mengocok. Kemudian akupun mengganti posisi 69 dengan posisiku di atasnya. Sensasi yang luar biasa mengalir mulai dari ujung penisku ke kepala, aku juga tak melupakan tugasku untuk memuaskan Donny sambil terus kukulum penisnya. Aku mulai merasakan akan datangnya ejakulasi,
“Don, Aku dah mau keluar, Ahh” sambil aku menyembutkan spermaku ke mulutnya dan ditelannya semua sampai bersih. Dan terus dijilatinya penisku, sehingga ada perasaan geli di ujungnya. Aku terus mengulum penis Donny yang lama kelamaan membengkak bertanda dia sudah mau mencapai klimaks. Desahan Donny terdengar diselingi dengan semburan kuat spermanya ke mulutku, terasa asin dan lezat. Aku menyedot kuat-kuat agar tidak tersisa sperma di batangnya yang membuatnya menggelinjang. Kemudian akupun bergerak menuju bibirnya dah menciumnya, masih ada rasa asin di mulut kami masing-masing.

“Aku sayang kamu, Don, kamu hebat banget” bisikku ke telingannya.
“Aku juga, aku sangat puas hari ini” balasnya dengan senyum. Kamipun tidur sambil berpelukan.

Kamipun sering melakukan kegiatan itu di rumahnya, karena di rumahnya sepi, dan kamipun lebih sering pergi bermain snooker bareng, dibanding dengan teman-temanku yang biasa. Tapi liburan semester kuliahku telah selesai yang mengharuskanku untuk kembali ke negara tetangga untuk memulai semester baru, akupun sedih harus meninggalkannya, karena hubungan 2 bulan kami ini
sangat indah. Tapi aku tak lupa untuk meninggalkan no. Hpku agar dia bisa SMS kalau kangen. Diapun datang mengantarku di bandara. Aku berharap dapat bertemu dengannya lagi di liburan semester mendatang.

 
Leave a comment

Posted by on 1 February 2011 in Kisah Hidup, Lelaki, Pria, Sex

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: