RSS

Faktor Psikososial yang Mempengaruhi Pembentukan Jiwa Pria Homoseksual

28 Jan

Homoseksual pernah disebutkan oleh American Psychological Association (APA) sebagai sebuah mental disorder. Setelah diteliti tentang penyebab, asal-usul dan perkembangannya, maka kaum homoseksual dikeluarkan dari daftar diagnosis dan kelainan. Yang sedang diperdebatkan sekarang adalah apakah homoseksualitas merupakan sesuatu hal yang terjadi akibat dari lingkungan seseorang atau malah dari bawaan genetik seseorang. Perdebatan tersebut sangatlah kuat, karena dari masing-masing sisi tersebut memiliki laboratorium penelitian tersendiri yang dapat membuktikan pendapat masing-masing. Sebagai contoh adalah teori biologi beragumentasi bahwa seekor monyet dan anak-anak diperlakukan secara sama dan dibesarkan dalam lingkungan yang sama, akan berkembang berbeda. Di sisi lain teori sosial menjelaskan bahwa anak kembar identik pun yang diperlakukan sama akan berkembang secara berbeda sampai umur 18 tahun.

Dalam perdebatan tentang orientasi seksual, banyak hal yang belum diketahui. Namun APA menyatakan bawah orientasi seksual bukanlah suatu pilihan tapi lebih merupakan suatu hal yang muncul dari hampir kebanyakan orang pada masa remaja awal yang belum mempunyai pengalaman seksual. Teori sosial berargumen bahwa pendidikan dan asuhan terhadap seseorang akan mempengaruhi secara langsung terhadap orientasi seksualnya. Aspek moral juga dikaitkan dalam perdebatan tentang homoseksual. Tapi tujuan dari penelitian ini adalah bukan untuk membuktikan apakah homoseksual itu benar atau salah, tapi lebih cenderung untuk membangun pemahaman yang cermat dari teori biologis dan sosial yang disinyalir dapat menjadi faktor causa homoseksual.

Karen Hooker menyatakan tes psikologis pertama adalah untuk mengetes determinan biologis pada tahun1957, yang diprakarsai dari National Institute of Mental Health. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan di antara homoseksual dan perkembangan psikologis. Hooker mempelajari baik homoseksual dan heteroseksual. Kedua grup tersebut dipasangkan menurut umur, Intelligence Quotient (IQ) dan tingkat pendidikan lalu diarahkan pada tiga tes psikologis. Tes tersebut adalah Rorschach, Thematic Apperception Test (TAT) dan Make A Picture Story Test (MAPS), dan hasilnya dianalisis oleh psikolog lalu hasil akhirnya ditabulasikan. Hasil dari eksperimen Hooker adalah tidak ditemukannya perbedaan signifikan dari jawaban-jawaban dalam ketiga tes tersebut. Karena kedua grup memiliki skor yang hampir sama. Ia menyimpulkan tidak ada korelasi antara determinan sosial dengan seksualitas.
Sebagai hasil penemuan Hooker, pada tahun 1973 APA menyingkirkan homoseksualitas dari daftar diagnosis kelainan psikologikal. Pada tahun 1975 APA merilis sebuah pernyataan bahwa homoseksualitas bukanlah gangguan kejiwaan. Dua puluh tahun kemudian, yaitu pada tahun 1994, akhirnya APA mengeluarkan definisi tentang homoseksual. Homoseksual adalah bukan penyakit gangguan mental atau keburukan moral. Homoseksual adalah salah satu bagian dari cara komunitas mengekspresikan kecintaan dan seksualitas.
Selain hal di atas, hubungan keluarga yang tidak harmonis, yang dikaitkan dengan pertengakaran dan ketegangan dalam keluarga merupakan sumber stress yang umun bagi anak-anak dalam negara maju. Perpecahan keluarga seperti perceraian orang tua mempengaruhi perkembangan anak-anak. Jelasnya, tidak hanya perpisahan itu sendiri tetapi periode yang panjang dan perselisihan dan banyaknya ketidakharmonisan yang akhirnya menimbulkan gangguan emosi pada anak. Studi mengenai pengaruh emosional karena tidak adanya sosok ayah merupakan salah satu variabel dalam memahami kejadian homoseksual. Hubungan emosional ayah-anak dan ibu-anak, diukur dalam kadar keintiman dan intimidasi pada laki-laki di Kanada. Hasil mengindikasikan bahwa laki-laki yang mengidentikasikan mereka sebagai gay menunjukkan kadar keintiman yang rendah dengan ayahnya. Efeknya mereka berperilaku seperti perempuan seperti menggunakan pakaian perempuan, bermain boneka, dan melakukan aktivitas lainnya yang bertentangan dengan jenis kelaminnya. Dengan adanya hasil ini maka teori ”weak father” dan pentingnya hubungan emosional dalam psikoseksual perkembangan gender berpengaruh terhadap keberadaan homoseksual.

 
Leave a comment

Posted by on 28 January 2011 in Gaya Hidup, Lelaki, Pria

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: