RSS

Untuk Para Homoseksual…

27 Jan

Mari kita merenung ke dalam diri kita sejenak, lepaskan semua beban emosional yang bersangkutan mengenai kehidupan kita sebagai gay terlebih dahulu dan lihatlah refleksi setiap momen yang telah kita jalani dalam hidup ini sebagai seorang gay.

Sudah?

Bagus, mari kita berbicara sebagai seorang sahabat di sini meskipun mungkin aku tak pernah mengenal kalian.

Kawan, sudah berapa lama kamu hidup seperti ini? Sudah berapa banyak air mata yang kau teteskan karena pernah mencintai seseorang lelaki? Sudah berapa lelah kamu terus melangkah dengan berat sebagai sosok yang berbeda di dalam keramaian?

Tidak pernah mudah untuk hidup menjadi seorang gay, bukan? Tidak pernah mulus untuk bisa menjadi sosok yang berbeda total di antara kebanyakan masyarakat, bukan?

Kawan, rasa ketidakamanan dan kesepian itu memang akan selalu ada, tak peduli seberapa baik kau telah berusaha untuk menutupi, menepis dan menyangkalnya. Setiap orang di muka bumi ini menyimpan keduanya di dalam hati mereka. Dan setiap dari kita, para gay, punya kedua rasa itu karena telah menjadi dirinya sendiri. Perlahan – lahan, keduanya tanpa disadari menjadi sumber penderitaan yang menyiksa dalam diri kita. Terutama bagi mereka yang menyangkal dirinya, hidup tidaklah lebih daripada neraka di dunia.

Mungkin kita kecewa akan kehidupan kita sehingga kita berpikir untuk apa menjaga diri kita lagi. Mungkin kita ingin merasakan sedikit senang – senang karena kita merasa selama ini telah menderita terlahirkan dan menjadi seperti ini. Mungkin karena itu jugalah kita terus mencari dan mencari apa yang sebenarnya bisa memberikan kesenangan itu dalam kehidupan kita. Ketidakamanan diri kita memaksa kita untuk menunjukkan ke dunia bahwa kita ini kuat, kita memiliki kelebihan untuk dilihat oleh orang lain di balik kelemahan terfatal kita. Kesepian pun tak membunuh diri kita secara langsung, ia menggerogoti setiap partikel terkecil diri kita secara perlahan – lahan, penyiksa yang hebat dalam setiap rasa sakitnya hingga kita merasa kita membutuhkan obat bius agar bisa meneruskan hidup kita.

Lalu apa yang telah kau lakukan untuk mengatasi semua itu?

Bersenang – senang dengan merasakan kenikmatan tubuh lelaki kah?

Apakah itu semua alasanmu melakukan hubungan badan dengan sembarang lelaki? Apakah ada alasan yang lain? Tentu saja, akan selalu ada alasan bagi mereka yang mencarinya. Pembenaran akan selalu ada dalam sudut pandang masing – masing karena kita semua memang benar dalam setiap diri kita.

Apa yang kau rasakan saat seorang lelaki tampan yang baru saja kau kenal atau bahkan tak kau kenal sama sekali menjamah dirimu?

Senang? Merasa ada yang memperhatikanmu? Merasa kasih sayang yang kau cari itu terpenuhi? Merasa dahaga itu akhirnya terpuaskan?

Berhentilah bermimpi, kawan. Bangunlah, kau sudah merusak dirimu terlampau jauh.

“Lho, kenapa? Aku kan senang – senang tidak merugikan orang lain! Dia mau – aku mau, yah makanya kita lakukan hal itu.”

Hanya mau sajakah yang menyebabkan semuanya itu terjadi dengan begitu mudah. Hanya karena keinginan sajakah? Hasrat? Itu saja sudah cukup untuk membuat dirimu yang berharga itu menjadi sosok murahan yang memberikan hasrat kepada sembarangan lelaki yang kau temui?

Tidak merugikan orang lain? Pikirkan ini, kawanku tersayang. Penyakit menular seksual membutuhkan sebuah penghubung agar bisa menular. Jika kau menjadi bagian dari penghubung itu, tidakkah kau merasa berdosa dan bersalah kepada dirimu sendiri dan orang lain? Dan jangan bilang bahwa perilakumu itu bisa diterima oleh masyarakat kebanyakan sehingga nama komunitas kaum gay ini akan baik – baik saja meskipun hanya kau yang mengetahui seberapa liarnya dirimu.

“Hey, aku melakukannya atas nama cinta kok. Aku ketemu dia, terus aku jatuh cinta sama dia. Beberapa jam kemudian, aku bertemu lagi dengan seseorang dan merasakan betapa dia sesungguhnya tercipta untukku. Beberapa bulan kemudian, aku melihat betapa tampannya seseorang yang membuatku merasa oh pasti dia belahan jiwaku!”

Cinta memang bertransformasi, cinta memang bisa muncul terhadap siapa saja dalam hidup kita. Tapi, tolong, hanya ketertarikan fisik betapa tampannya dan atletisnya dia, kau segera mengatakan bahwa itu cinta? Jangan biarkan mata hatimu buta hingga tak bisa membedakan apa yang disebut cinta dan hasrat hanya karena mata fisikmu yang akan membusuk di dalam kubur itu mendapatkan apa yang diinginkannya. Jangan membenarkan dirimu atas nama cinta. Kamuflase hasrat dalam nama cinta adalah hal yang menyebabkan dirimu tidak bisa menemukan cinta sejatimu. Kau terus berganti – ganti, berharap bahwa itulah cinta setiap kali kau bertemu dengan sosok yang memancing hasrat, berharap bahwa itu adalah orang yang mencintaimu, padahal sesungguhnya itu semua hanyalah teriakan dari egomu yang dipenuhi oleh hasrat.

“Aku ingin mencari cinta sejatiku, karena itulah aku melakukan semua ini.”

Kawan, stoplah berpikir seperti itu. Orang yang mencintaimu apa adanya akan menerima keseluruhan dirimu, bukan sekedar mencicipi kelamin ataupun anusmu! Berpikirlah dengan gunakan logikamu, seks bukanlah cinta. Berhubungan seks bukan berarti menunjukkan cinta dan menunjukkan cinta bukan berarti harus berhubungan seks. Ada bedanya antara “having sex” dengan “making love” dan jangan sampai hanya karena gejolak emosional dalam dadamu, kau jadi tidak bisa membedakan keduanya. Orang yang mencintaimu, yang sungguh – sungguh mencintaimu di luar sana, adalah orang yang cukup dewasa untuk memperlakukan kelaminnya dan kelaminmu dengan baik dan benar.

“Kita sudah sama – sama dewasa koq, jadi kamu gak perlu kasih tau aku lagi. Aku tau apa konsekuensinya dari perbuatanku ini!”

Kau tahu konsekuensi perbuatanmu ini? Sungguh? Kau pikir dirimu dewasa hanya karena tahu apa konsekuensinya dan bersiap – siap untuk menerimanya? Orang yang sungguh – sungguh dewasa adalah orang yang memegang ucapannya, kawan. Melakukan apa yang mereka tahu seharusnya mereka lakukan dan tidak melakukan apa yang mereka tahu seharusnya tidak mereka lakukan. Itu adalah orang dewasa! Selama kau hanya mengetahui dan tidak menerapkannya dalam hidupmu, tidak bertanggung jawab atas kebaikan dirimu sendiri, kau tidak lebih daripada anak kecil yang baru saja belajar membaca alfabet.

“Straight saja juga banyak kok yang free seks, jadi kenapa kita harus ketinggalan? Mereka juga banyak cerai kok, jadi wajar juga lah kalo kita sering putus sama cowok kita.”

Jika kau ingin diperlakukan sama seperti para straight maka ikuti teladan baik yang biasa dilakukan oleh para straight dalam berhubungan dengan pasangan mereka. Apakah kau tidak melihat bahwa para straight yang melakukan free seks itu juga merupakan objek yang dianggap sampah masyarakat? Sebegitu berhasratnya kah kau terhadap seks hingga kau rela dirimu disamakan dengan mereka? Yah, banyak straight yang bercerai memang, tapi itu bukan berarti kau bisa membenarkan dirimu untuk tidak mempertahankan hubungan dengan pasanganmu selama kau bisa mengusahakannya untuk dirimu dan pasanganmu. Memutuskan hubungan dengan pasangan hanya karena melihat daun hijau yang lebih segar tidak ada bedanya dengan anak kecil yang bosan akan mainannya dan merengek meminta untuk dibelikan mainan yang baru. Kapan kau akan bertumbuh dewasa dari fase tersebut? Kapan kau akan berhenti menangisi hidupmu yang kau buat – buat sendirinya deritanya?

“Para senior mengajarkanku seperti ini. Aku coba ternyata enak, yah sudah, aku ikuti lagi cara mereka. Aku ulang terus dan ku ajarkan lagi kepada generasi penerus.”

Jangan salahkan para senior, salahkan dirimu sendiri. Jebakan memang manis, sangat menggoda. Seekor tikus juga tak akan mungkin mau masuk perangkap jika tidak ada keju yang bisa memenuhi rasa laparnya bukan? Sadarkah kau bahwa dengan melakukan semua hal itu kau akan merusak dirimu? Membuka kemungkinan akan dihinggapi oleh PMS semakin lebar? Membenarkan citra buruk yang secara sembarangan diberikan oleh masyarakat kepada SELURUH kaum gay? Sadarkah kau bahwa tindakanmu yang menyebarkan paham hedonisme itu juga mempersempit kemungkinan gay lainnya untuk bisa menemukan cinta sejatinya yang bisa menerima dirinya apa adanya dan mau hidup hingga hari tua? Bukan dirimu saja yang dirusak di sini, seluruh komunitas gay terkena dampaknya oleh satu tindakan salah dari satu kepala.

Kawan, tidakkah kau lelah dalam kenikmatan sementara yang sangat destruktif itu?

Kawan, tidakkah kau lelah mencari dan terus mencari sarana pemuasan nafsumu?

Kawan, tidakkah kau lelah membuat alasan dan pembenaran demi menutupi lubang yang kau ciptakan sendiri?

Kawan, tidakkah kau lelah menangisi hidupmu sendiri karena hal yang telah kau lakukan sendiri?

Jika kau sudah lelah, beristirahatlah. Tenangkan seluruh hasratmu yang selama ini membuatmu menderita. Setelah itu, bangkitlah. Bangkitlah sebagai sosok yang terlahir kembali yang cukup kuat untuk berdiri menentang arus. Tentanglah arus yang selama ini kau ikuti dan menghanyutkanmu dalam air mata. Sayangi dirimu yang hanya ada satu di dunia itu. Kau berharga apa adanya, jangan rusak dirimu lagi. Dia sudah terlampau sering berteriak kesakitan walaupun kau berusaha untuk tidak mempedulikannya, rasa sakit itu tetap ada di sana, menunggu saat yang tepat untuk menjerumuskanmu dalam jurang penderitaan tiada akhir.

Mungkin dunia akan terasa semakin sulit ketika kau telah terlahir kembali sebagai sosok baru itu. Homophobic tetap ada berteriak menuding bahwa dirimu adalah produk buangan alam semesta yang pantas untuk dimuntahkan ke neraka sedangkan kaum homoseks yang selama ini kamu gauli akan menganggapmu munafik karena tidak lagi mau mengumbar kelamin dan lubang anusmu kepada mereka. Tapi itulah dunia. Sedangkan dirimu adalah dirimu. Kau memang bagian dari dunia ini, tapi bukan kepada dunia, kau menyerahkan kebahagiaanmu. Kebahagiaanmu adalah hal yang sangat personal, menyangkut kepada dirimu sendiri saat menghadapi dunia. Kebahagiaanmu hanya ada di tanganmu, kawan, bukan di tangan mereka. Hanya kau yang bisa memutuskan untuk menjalani hidup lebih baik demi kebahagiaanmu.

Jadi, apakah pilihanmu, kawan?

 
Leave a comment

Posted by on 27 January 2011 in Seru

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: