RSS

Manfaat Narsis

27 Jan

Jikalau mempunyai kelebihan, cukuplah hanya sampai Narsis saja, jangan jadi Sombong

Begitulah dulu kira-kira yang pernah aku sampaikan ke rekan-rekan semua. Hal yang sepertinya sederhana, tapi ternyata sulit juga mencari contohnya. Namun untung saja aku mempunyai kerabat yang akhirnya bisa sedikit memberikan contoh yang menarik soal Narsisme ini.

Kerabat yang mempunyai anak bernama Deny. Deny yang baru lulus dari sebuah Universitas negeri yang cukup bonafit ini memang merupakan salah satu dari beberapa pria yang ditanggung membuat iri pria lain.

Selain bertampang ok, tingkah laku dan gaya berpakaiannya pun tidak terlihat aroma cowok metropolis yang rentan tergelincir menjadi seorang gay. Istilahnya ‘lanang tenan’ dalam bahasa jawa. Sudah begitu, walau bapak-ibunya memiliki rumah yang megah beserta deretan mobil mewah si Deny malah memilih memakai mobil VW Kodok tua sebagai alat transportasinya ke kampus. Itu saja dengan alasan yang sangat sederhana, “asal nggak kehujanan dan bikin buku saya rusak Om”.

Alasan sederhana yang ternyata tidak mengurangi daya tarik perempuan di kampusnya. Bahkan tidak mengherankan banyak sekali cewek-cewek yang naksir si Deny. Sampai-sampai sudah tidak bisa terhitung berapa cewek yang pernah dipacarinya secara resmi atau tidak.

Perihal sering gonta-ganti pacar inilah yang akhirnya membuat mamanya kesal. Apalagi setelah ada salah satu pacar Deny yang ternyata cukup membuat membuat mamanya terpikat. Saking terpikatnya si pacar dijadikan asisten bisnis mamanya Deny.

Kedekatan ini membuat pihak keluarga pacar Deny semakin ingin memperjelas status mereka. Maksudnya sih dinikahkan. Cuman sepertinya Deny masih ogah-ogahan. Entah memang belum cocok atau memang masih pengen bebas aku kurang paham.

Cuman sepertinya, Papanya Deny cukup paham dengan perasaan anak lelakinya. Om yang satu ini pun sepertinya juga masih belum ‘sreg’ dengan pacar Deny. Cuman si Om tidak ingin terlalu kasar terlihat mendukung sikap Deny.

“Jadi kenapa kok Deny nggak dinikahkan saja Om?”, tanyaku suatu sore saat kami berkumpul.

“Iya pah, knapa tidak papah lamarin saja ke Keluarga si Sinta?”, desak tante.

“…..”, Deny cuman terdiam dan melirik papahnya, sepertinya meminta pembelaan.

“Gini lho mas Ndol”, katanya memulai pembicaraan.

“Apaan om?”

“Om kau ini ama Deny itu punya banyak persamaan”

“Sama apa?”, tanyaku sambil terkekeh melihat gelagat narsis si Om.

“Sama-sama rendah seleranya soal perempuan, beda sama Tante kau ini. Tante kau soal cowok tinggi sekali seleranya”, katanya sambil melirik istrinya.

“Hah! Apa! Maksud papa aku jelek, buluk dan kudisan gitu? Trus papa paling ganteng gitu?!!”, amuk Tante mendengar jawaban si Om

“Oh aku nggak bilang begitu, kamu sendiri yang bilang lo mah”, kata Om ngeles.

Aku dan Deny pun jadi terpingkal-pingkal. Memang jiwa narsis itu masih banyak manfaatnya. Setidaknya untuk berdiplomasi. Karena bagi yang berjiwa narsis, dengan satu kalimat pendek sudah cukup menjelaskan sebuah alasan penolakan yang elegan. Penjelasan yang ibarat sekali merengkuh dua-tiga pulau terlampaui. Satu sisi mengproklamirkan kegantengan, satu sisi penolakan hubungan karena sepsifikasi pacar Deny yang masih diaggap kurang cukup seimbang.

Soal tante yang ngomel-ngomel? Itu biasa, namanya juga orang kalah skak. hehehehe

 
Leave a comment

Posted by on 27 January 2011 in Seru

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: