RSS

Jangan Ganggu Banci

27 Jan

Adalah menemukan minat dan kecenderungan dari teman-teman sekantor. List pertama so pasti Facebook…everybodies kecuali aku punya akun fesbuk. Kalo aku sendiri kalo enggak ke kompasiana ya ke baltyra, ditemukan juga akses ke website-website bisnis (pribadi) tapi yang bikin shock tuh ternyata ada beberapa teman mengakses ke situs gay – situs gay ini juga merupakan situs pertemanan dan tiap member punya akun tersendiri. Seorang teman bahkan tidak pernah logout dari akunnya jadi begitu kita klik langsung masuk ke kamar dia – foto, tinggi/berat badan, warna kulit dan preference termasuk daftar isian yang disediakan. Sempat kaget waktu baca preferencenya…”bottom only”, langsung kupanggil yang bersangkutan..”Ciiin, maksudnya apa nih?” – Ya lewat belakang , Jeung, jawabnya lugas. Dengan rasa ingin tahu kutanyakan lebih lanjut, “Gimana sih posisinya?”, Gue tinggal duduk dengan manis di atas deze, boooo – jawabnya disambut ketawa kami bersama.

Memang ada beberapa teman di kantor yang penyuka sesama jenis dan mereka sangat terbuka kepada kami teman-temannya. Salah seorang malah sudah berumah tangga dengan isteri yang cantik dan sedang menunggu kelahiran anak kedua. Percakapan mereka dengan teman-teman sejenis via telpon juga menyiratkan bahwa teman-teman merekapun walau gay tapi penampakan di masyarakat adalah lelaki biasa dengan kehidupan rumah tangga yang cukup bahagia…sering kudengar mereka terkadang saling menyindir..”Iya deh yang keluarga harmonis.” Sempat kutanyakan kepada temanku dan dia menjawab dengan lugas, “Ya kami terpaksa menikahi perempuan dan hidup berumah tangga, semua untuk menenangkan dan membahagiakan keluarga besar yang sudah mulai curiga. Tapi apakah mereka pernah bertanya bahagiakah kami dengan pernikahan ini.”

Kasihan juga mendengarnya apalagi jika menarik benang ke belakang dan bagaimana mereka bisa sampai ke kehidupan gay itu. Kebetulan teman-temanku terbawa dalam kehidupan gay karena ada sejarah kelam di masa lalu, bukan akibat pergaulan dunia gemerlap. Dalam beberapa kasus, bahkan lingkungan keluargalah yang membawa mereka pada kehidupan gay itu misalnya kehilangan figure seorang bapak pada usia yang terlalu dini, diperkosa oleh oom sendiri. Kadang mereka ingin hidup di luar negeri yang lebih membebaskan kehidupan gay, kadang mereka juga ingat dosa tak berampun yang telah mereka lakukan …suatu dilemma selalu mengikuti.

Di lingkungan gay, peran mereka terbagi dua – ada yang jadi perempuan, ada yang jadi lelaki. Dan teman-temanku itu menjadi perempuan, memang mereka tidak pernah berdandan ala perempuan tapi kalau sudah bicara maka gaya kemayu perempuan akan keluar. Pernah kutanyakan apa isteri dan mertuanya enggak curiga? Rupanya kalau di rumah mereka jaga wibawa dan karena tahu bahwa mereka cenderung kemayu maka mereka sangat pendiam. Begitulah kehidupan itu dijalankan….dua sisi mata uang harus digenggam dan dimainkan.

Bagaimana dengan banci kaleng-banci kaleng yang sering kita temui ngamen di lampu merah atau bersliweran di jalan?

Suatu reportase investigasi di suatu televisi swasta meliput kehidupan seorang banci kaleng. Sebut saja nama aslinya Asep berasal dari suatu kota kecil di Jawa Barat merantau ke Jakarta meninggalkan isteri tercinta dan seorang anaknya. Berharap ada kesempatan hidup yang lebih baik ternyata mata pencahariannya akhirnya berlabuh pada suatu grup banci kaleng dan dia bertugas membawakan peralatan stereo musik mereka. Menelusuri jalanan ibu kota membawa kesadaran pada Asep bahwa menjadi banci kaleng membuat penghasilan lebih besar maka berubahlah dia menjadi banci kaleng. Semata menggelutinya hanya sebagai profesi dan tanggung jawab mencari nafkah bagi keluarga, manakala dia menyambangi isterinya di kampung dia tetap sebagai lelaki tambatan hati. Reportase itu membuat Asep sadar bahwa isterinya harus tahu apa yang dilakukan suaminya di Jakarta. Maka akhirnya kali ini kunjungannya juga sekaligus merupakan suatu pengakuan terjujurnya dilengkapi dengan foto-foto manakala dia menjadi banci kaleng. Sang isteri tak kuasa menahan jerit dan airmatanya, Asep hanya bisa ikut menangis dan kamera perlahan meninggalkan mereka.

JANGAN GANGGU BANCI…JANGAN GANGGU BANCI, demikian nyanyian Project Pop dengan semangat. Yah, jangan ganggu banci-banci atau gay-gay itu…mereka hanya korban keadaan dan tiada yang tersakiti kecuali diri sendiri.

Mereka lebih mulia dibanding dengan seorang Ketua Umum KPK yang langsung bernyanyi tidak keruan saat ditangkap karena tidak bisa mengendali arus bawahnya. Bernyanyi bahwa teman-temannya menerima suap kemudian menimpali nyanyiannya sendiri dengan kata-kata..”saya dipaksa polisi’, c’mon be a man.

Rasanya banci-banci itu lebih mulia dari seorang penulis di sebuah situs tetangga yang baru bisa menurunkan tulisannya manakala ada kehebohan di situsnya…trus gimana jika tidak ada kehebohan, apa yang ditulis? Tidak ada…nol besar. Kasihan, manakala seluruh rakyat Indonesia turun gelanggang bersatu membela ketidak adilan yang terjadi pada ketua-ketua KPK- Bibit dan Chandra. Kok masih ada orang yang sibuk bergunjing yang tidak perlu sementara Pe eR kita masih banyak … KPK, Bank Century, negara Indonesia, rakyat Indonesia….

 
Leave a comment

Posted by on 27 January 2011 in Seru

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: