RSS

Curhat Seorang Kompasianer Gay (Kisah Nyata)

27 Jan

SEANDAINYA manusia diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memilih, tentu saja saya tidak ingin terlahir sebagai seorang gay. Terkadang menjadi bahan olok-olokan, dianggap sebagai penyakit jiwa, bahkan tidak jarang dituding merendahkan nilai-nilai kemanusiaan.

Sungguh menyakitkan. Tapi saya sadar semua ini adalah suratan dari-NYA. Tuhan sudah menggariskan takdir saya. Dan, suka atau tidak suka, saya harus menerima kenyataan ini sebagai sebuah kodrat.

Saya adalah anak tertua dari lima bersaudara dari keluarga berasal dari Minang yang menetap di Jambi. Sejak kecil saya merasa ada yang beda dengan diri saya, dibanding dengan pria pada umumnya. Saya mulai merasakannya ketika masih duduk di bangku SD. Kalau tidak salah, saya masih kelas tiga. Kala itu, kelainan yang mulai saya rasakan adalah adanya perasaan suka dengan sesama jenis. Saya kadang merasa aneh dengan diri sendiri, dan bahkan bertanya dalam hati: bukankah saya ini berjenis kelamin laki-laki?

Ketika beranjak SMP, batin saya mengatakan kalau saya itu beda dari kebanyakan orang. Saya cari tahu terus tentang diri saya melalui majalah remaja tentang kelainan yang saya miliki. Gejolak dan pencarian saya itu menjadikan saya orang yang pendiam, pemalu sampai akhirnya saya SMA, saya jatuh cinta pada sahabat saya sendiri dan rasa itulah yang membuat saya tersiksa.

Untuk menghilangkan rasa itu saya banyak banyak membaca dan menyibukan diri. Dengan membaca wawasan saya bertambah dan menjadi percaya diri namun masih menutupi diri saya. Akhirnya selepas SMA saya menjadi penyiar Radio Di Pekanbaru. Di sini lah saya baru mulai berpikir untuk membuka diri, ketika salah seorang rekan sesama penyiar mewawancaraiku.

“Ndra,kamu Playboy atau sekong?”

“Maksudnya?”

“Begini. Biasanya ada dua tipe laki-laki yang ingin jadi penyiar radio. Kalau nggak play boy, ya sekong…Wajah ganteng kan tidak menjamin kalau kamu playboy, bisa saja kamu sekong…”

Kata-kata ini membuat saya terus berpikir. Apakah saya harus terbuka? Atau saya harus memendamnya dalam-dalam? Terus terang, ada gejolak dalam diri ini, namun saya mengambil keputusan untuk memendamnya, paling tidak untuk sementara waktu.

Suatu ketika, saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa gay itu bukan kelainan seksual. Gay adalah istilah untuk laki-laki yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama laki-laki atau disebut juga laki-laki yang mencintai laki-laki baik secara fisik, seksual, emosional ataupun secara spiritual. Secara psikologis, gay adalah seorang lelaki yang penuh kasih. Mereka juga rata-rata agak mempedulikan penampilan, dan sangat memperhatikan apa-apa saja yang terjadi pada pasangannya.

Beranjak dari pengetahuan itu maka saya putuskan terbuka pada teman teman sesama penyiar. Anehnya, mereka tidak kaget sama sekali. “Dah tau kali,walau kamu menutupinya tapi mata kamu tidak bisa bohong, wong mata seorang gay itu kalau melihat cowok cakep pasti bawaanya salah tingkah,” kata mereka. Dan kata-kata itu mendorong saya memberanikan diri untuk terbuka pada teman teman saya. Tidak semuanya sih,cuma beberapa, dan sebagian dari mereka kaget karena tidak menyangka. Saat itu ada yang mengatakan, “Sayang banget kamu gay wajah kamu oke”.dan ada juga bilang “semoga kamu dapat hidayah,kembali ke jalan yang benar.”

Tetapi kemudian saya jelaskan kalau saya bukan tipe laki laki gay yang sengaja mencari mangsa. Kalau keterbukaan saya pada ibu dan adik adik saya belum, nanti saya mulai terbuka di tahun 2007.

Yahh…, untuk sementara mungkin itu dulu yang baru bisa saya ceritakan kepada teman-teman kompasianer. Habis saya bingung mau cerita seperti apa. Tapi yang jelas itu cerita pencarian jati diri.
Meski saya juga seorang kompasianer, namun terima kasih saya sampaikan kepada Mas Andy untuk menerima keterbukaan saya serta menuliskan kembali dengan gaya bertutur.

Oh, ya.. saya juga ingin mengatakan kepada mereka yang tidak tahu, atau belum tahu, bahwa gay itu bukanlah kemauan manusia melainkan sudah dari sananya.Kalau bapak berminat saya akan juga menceritakan kehidupan saya untuk di jadikan buku. Karena saya merasa bukan penulis ulung melainkan masih amatiran.

Meski saya ini gay, janganlah mengangap itu suatu yang menjijikan. Jauh dari lubuk hati seorang gay, tidak ada yang ingin lahir seperti ini. Tapi mau gimana lagi rasa itu bukan rasa yang dibuat buat melainkan rasa yang telah ada sejak lahir, rasa yang dari sang pencipta yang tidak bisa kita ingkari. Seperti juga Tuhan menciptakan siang dan malam tapi tuhan juga tidak lupa mencipatakn senja dan subuh. Dan kita sebagai manusia biasa kenapa harus menghakimi sesama manusia itu saja..

 
2 Comments

Posted by on 27 January 2011 in Seru

 

Tags: , ,

2 responses to “Curhat Seorang Kompasianer Gay (Kisah Nyata)

  1. fujoshi203

    17 October 2013 at 19:33

    bru nemu ini tulisan-,-
    dan saya suka isinya,keterbukaan anda ttg orientasi seksual yg menyimpang,dan kt2 motivasi yg sngt mndrong para gay agar tak trlalu mntup diri dri dunia luar krna orientasi seksualnya:)
    saya cewek normal yg msih tertarik pd kaum adam,,tpi saya menyukai kaum gay,mnrt saya gay itu unik dan menyenangkan…
    tpi trkdng saya d anggap aneh sm tmen2 kls saya krna saya suka mmperhtikan psngn gay atau hal2 yg berbau gay..,,

     
  2. Deniz

    14 July 2011 at 16:10

    Ya memang aq jga, merasa sperti v hruz gmana lgi rasa itu tak pRnah hilanG dalam hatiku, kadang aq dengan kenyataan ini, v aq gag bisa keluar dri dunia gay…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: