RSS

Cetak Biru Kaum Metroseksual dan Orang Narsis

27 Jan

“Kaum metroseksual adalah a dandyish narcissist in love with not only himself, but also his urban lifestyle.”

-Mark Symson, 1994-

Lelaki yang belum cukup dianggap dewasa lebih cenderung disebut cowok yang terkesan masih tumbuh berkembang. Sementara kaum perempuan menjadikan perkembangan kedewasaannya jauh diatas pria, benarkah? Apakah karena sosok kaum hawa memiliki perbedaan secara gender yang berbias kepada banyak hal termasuk gaya hidup (life style) yang mampu menggeser peranan masing-masing? Bahkan kadang terkesan abu-abu antara mana itu maskulin, mana yang feminin walau sudah jelas jenis kelaminnya, tetapi memiliki peranan berbeda yang tidak hanya berpusat pada identitas seksual saja. Pergeseran peran antara pria dan wanita dari masa ke masa semakin menonjolkan dalam banyak hal. Mulai dari status pekerjaan, pengasuhan anak, tanggung jawab dalam keluarga, kehidupan sosial, bahkan sampai mengurusi dandanannya masing-masing yang serba penuh dengan pernak-pernik ribet.

Penulis akan berusaha berbagi pemahaman terkait dengan cetak biru kaum metroseksual yang dialami para pria dan hubungannya dengan orang yang narsis dalam wujudnya secara nyata. Tulisan ini diperkaya dengan fenomena yang menyeruak kepermukaan masyarakat disekitar penulis dengan berbagai sudut pandang pada bidikan mentalitas sosial terkini.

Sesungguhnya apa sih metroseksual itu?

Yang jelas bukan Metro TV hehehe. Atau bahkan dalam pikiran Anda kaum metroseksual itu yang selalu menonjolkan kehidupannya untuk bermain-main dengan seks-nya, dengan kelaminnya untuk memenuhi hasrat napsu birahinya semata. Karena ada kata seksualnya. Wah ini S O banget (sex oriented).

Ketika membaca artikel-artikel atau buku-buku seputar metroseksual yang penulis nikmati, maka akan sangat kental nuansa glamour dalam kancah perlelakian dalam konteks dandanan mereka. Karena pada dasarnya kaum metroseksual merupakan pemujaan segala rupa penampilannya secara modern yang bermula dari kehidupan perkotaan. Kalau penulis sendiri secara origin berasal dari pedesaan sehingga memiliki kegairahan meneliti budaya life urban yang membuat gerah tersendiri. Pertanyaannya mungkin sangat subyektif sekali: kok mereka suka berpakaian necis dengan tatanan rambut terkini, sepatu mengkilap, kemeja dan celana kerja yang sangat rapi, licin, bermerk, dan pasti harganya cukup membuat para tukang becak berdecak kagum bila melihatnya di display toko-toko baju terkemuka.

Tidak hanya pakaian saja, hair style yang aneh-aneh pun sangat nampak pada pria metroseksual. Namun secara sederhana dapat penulis ungkapkan ada dua tipe secara perfomance: formal dan casual tetapi terkesan glamour (ciye-ciye). Anda mungkin salah satu tipe pria metroseksual yang selalu memerhatikan penampilan, perwatan, gaya hidup, dan pergaulan dalam hidup sehari-hari karena sebuah tuntutan yang mengharuskan bergaya demikian. Sehingga tidak bisa dipungkiri memang bahwa perkembangan dari masa ke masa pencitraan pria metroseksual sebagai sebuah kaum manusia yang memuja dirinya atas pemujaan rupa dan penampilan* sebenarnya erat sekali dengan perilaku konsumerisme karena dampak kapitalisme global.

Bagaimana kehidupan kaum metroseksual dulu dan sekarang ini?
Sejarah menelusuri kehidupan kaum metroseksual yang secara alamiah berkembang semakin mengikis perbedaan dari dulu dan sekarang. Penulis menyimpulkan bahwa dulu mereka kaum metroseksual cenderung diidentikan dengan penyuka sejenis, gay atau homoseksual. Karena pria penyuka sejenis sangat memerhatikan penampilan supaya lebih diperhatikan kaumnya. Sehingga mereka habis-habisan memoles diri supaya kelihatan sangat tampan walau kebanyakan cenderung sissy, kecewek-cewekan, atau ngondek (hehehe), tapi bukan bencong. Namun harus dilihat sekarang bahwa pria pada umumnya juga dituntut memerhatikan penampilan, lahirlah David Beckam sebagai icon pria metroseksual yang manly, cowok banget untuk dijadikan rujukan gaya hidup yang secara karir sukses, berpenampilan dandy, dan ditiru banyak orang. Maklum, hehhehe jadi publik figur, aih.

Untuk menunjang terwujudnya citra metroseksual yang keren abis muncullah produk-produk kecantikan dan perawatan berlabel FOR MEN sehingga pria-pria sangat gandrung mengonsumsinya. Lahirlah industri dan jasa seperti salon khusus pria yang elegan untuk merawat tubuh, wajah, dan rambut, atau juga kuku-kukunya. Pusat-pusat kebugaran yang selalu menawarkan pembentukan otot tubuh agar selalu terkesan manly dan sixpack. Kemudian secara rutin dihelat ajang pamer body baik secara sepintas umumnya bermodal ketampanan dan tubuh yang keren, walau otak belum intelek, contohnya Pemilihan Pria L-Men, Pemilihan Duta Wisata, Lomba Modelling, yang tidak hanya mengandalkan body saja, otak pun harus cerdas, etc. Sehingga kaum metroseksual tergeser dengan lahirnya kaum uberseksual yang tidak

hanya menonjolkan luarnya saja baik harus tampan, necis, keren, manly, memakai wangi-wangian yang khas, atau berpenampilan casual nan trendy, tetapi dari segi intelektual selalu dikedepankan untuk bekerja, berpikir dan berkarya secara profesional. Tidak seperti beli kucing dalam karung.

Para kaum metroseksual senantiasa elegan dalam berpenampilan dan pembawaan diri, lebih-lebih saat presentasi yang secara sempurna menyiapkan softskills-nya supaya tetap eksis dalam karir, dan berpengaruh. Serta mendapatkan simpati, perhatian serius dari orang-orang yang ada disekelilingnya. Dengan kata lain, mereka selalu memerhatikan diri secara mendalam supaya perfoma tetap terjaga, ter up-date, dan terus berupaya meng-up-grade diri.

Apakah Anda termasuk orang yang narsis?

Mendengar dongeng Pangeran Narcissus yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri saat dirinya melihat rupanya di air kolam membuat penulis tersenyum sendiri. Tidak dipungkiri memang setiap orang selalu ingin dipuji. Mustahil atau mengingkari jika kalau dipuji tidak senang. Merasa bangga dan bahagia pastinya. Tetapi kalau berlebihan akibat dari memuji, mencintai dirinya sendiri secara berlebihan mampu mengakibatkan sifat egoisme dan egosentrisme terhadap orang lain, bahkan lebih ekstrim egois dengan dirinya sendiri. Merasa diri paling keren, tampan, cantik, perfect, sehingga jika bertemu dengan orang yang bukan kriterianya akan memandang sangat sinis. Mengapa bisa demikian? Itu merupakan salah satu penyakit kejiwaan kata Freud.

Hubungannya dengan metroseksual sangat erat narsis itu. Tetapi tidak semua pria metroseksual sangat egois. Jika Anda termasuk orang yang narsis tentu memiliki fase-fase kenarsisan yang berbeda dari tahun ke tahun mengalami pemujaan diri. Karena Anda selalu memerhatikan diri sendiri secara mendetil untuk kemudian diperfomakan kepada lingkungan dimana Anda beraktifitas, dan berharap semua mata memandang.

Kaum metroseksual dan kenarsisannya
Tidak bisa dipungkiri sejauh ini bahwa kaum metroseksual selalu berusaha menjadi perhatian orang-orang disekelilingnya untuk mendapatkan citra modernitas dari kosmpolitan yang senantiasa berkembang. Dengan penampilan yang menampilkan kenarsisannya, mereka ingin selalu eksis bahwa penampilan menjadi modal mutlak meraih level kemapanan secara sosial untuk bertahan pada dirinya dan gaya hidupnya.

 
Leave a comment

Posted by on 27 January 2011 in Gaya Hidup, Lelaki, Seru

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: