RSS

Bersama Sopir Taksi

27 Jan

Suatu saat di musim dingin, saya harus berangkat ke KBRI Tripoli Libya. Jaraknya kurang lebih tiga kilometer arah barat dari kampus tempat saya belajar. Sekitar jam empat lebih lima belas menit, saya berangkat dari kampus dengan memakai pakaian yang semusim dengan ganasnya cuaca Libya saat musim dingin.

Di depan gerbang utama kampus saya menunggu agak lama untuk medapatkan taksi menuju KBRI. Karena hanya taksi saja yang punya trayek menuju daerah KBRI, tidak ada angkot seperti di Indonesia yang begitu membludak keberadaannya. Walaupun sebenarnya ada angkot, tapi tidak melewati langusung lokasi bangunan KBRI yang akan saya tuju, melainkan harus sedikit jalan kaki hingga lokasi tujuan. Walaupun juga naik angkot lebih murah, tapi di saat kantong belakang masih memungkinkan, tidak ada salahnya untuk naik kendaraan yang di tanah air dianggap ekslusif ini.

Ada dua macam taksi di negeri yang menjuluki dirinya dengan negeri hijau ini, yaitu taksi plat kuning yang resmi, dan taksi plat putih alias taksi siluman atau ilegal. Saat menunggu taksi plat kuning yang tak kunjung muncul, walaupun muncul tapi ada penumpangnya, tiba-tiba di sebrang jalan ada mobil bercat putih dengan suwwaq (bentuk plural dari saaiq yang berarti sopir) tua melihat dan melambaikan tangan khas ke arah saya sembari berkata “Weyn Masyi?” (Mau kemana?). Saya pun menunjuk arah barat dimana KBRI bertempat. Kemudian saya menyebrang setelah mobil itu berhenti.

Sebenarnya taksi plat putih ini beroprasi antara pertigaan Jibes sampai Syari’ ‘Asyroh (Jl 10; nama jalan) yang berjarak sekitar dua kilometer. Tapi setelah saya membuka pintu, saya tawarkan ke pak tua untuk mengantarkan saya sampai ke lokasi KBRI. Di sini mulai keunikan-keunikan muncul, keunikan yang membedakan antara angkutan di Libya dan di Indonesia, khususnya taksi.

Assalamualaikum… Dengan intonasi khas Libya yang memang harus dipaksakan agar seirama dengan pak sopir, itulah pembukaan yang wajib diucapkan pertama kali oleh calon penumpang dalam aksinya mendapatkan tumpangan. Itu diucapkan bukan oleh orang Islam saja, non muslim pun melakukan hal serupa, karena itu tidak lagi masuk wilayah agama, tapi wilayah tradisi. Ucapan itu tidak hanya diucapakan ketika hendak naik taksi saja, melainkan juga di berbagai kesempatan, seperti masuk toko, warnet, melewati orang, dan sebagainya.

Kebiasaan mengucapkan salam ini kadang terbawa ke Indonesia saat saya akan menaiki taksi, angkot, atau masuk toko, tapi sebelum terucap, saya sudah ingat terlebih dahulu bahwa saya bukan sedang di negeri yang luasnya dua pertiga dari luas Indonesia dengan penduduk hanya sekitar 5 juta ini. Ternyata bukan hanya saya saja, tetapi teman-teman juga kadang terlakukan (tidak sengaja) hal yang sama saat di tanah air, saya mendapatkan kejadian sama ini saat mereka bercerita setelah kembali ke Libya dari tanah air. Dan karena tingkah “aneh” ini, kadang mendapat respon atau hanya senyum simpul dari penumpang lain yang melihat fenomena di luar kebiasaan dalam komunitas masyarakat yang berbeda dengan masyarakat sahara ini.

Bukan hanya salam sebagai pembukaan basa-basi dengan pak sopir, tapi juga dengan salaman, kata sama namun dengan tambahan akhiran (an) yang tentu membedakan arti antara keduanya. Ini dimaksudkan agar lebih terasa akrab sebelum acara puncak tawar menawar harga dilaksanakan.

Setalah mengucapkan salam plus berjabatan tangan, rayuan pun dilancarkan sebelum menuju acara inti. Rayuan ini tak begitu berbeda antara calon penumpang satu dengan yang lainnya. Rayuan itu berbentuk menanyakan keadaan si sopir yang diulang-ulang tapi dengan berbagi bentuk ungkapan berbeda dan kadang juga pengulangan kalimat yang sama. Syin jaw, syin haluk, syin akhbar, dan keif hal itulah kalimat yang diutarakan kepada sopir yang kesemuanya berarti apa kabar. Bukan hanya keadaan sopir, tapi kadang keadaan keluarga, anak, dan istri si sopir pun ditanyakan.

Itulah pemikat yang sering dikatakan calon penumang tak tekecuali saya, kecuali kata-kata akhir yang menyangkut orang-orang sekelilng si sopir, itu tak keluar dari mulut saya kecuali bagian pertama dari bagian orang-orang paling berharga bagi seorang sopir pria. Sebenarnya itu semua bukan rayuan, tapi sebuah tradisi yang melekat di benak orang-orang Libya yang ditiru oleh para pendatang, sebuah tradisi yang tak terasa telah diracik dengan rasa reliji sehingga yang non muslim pun tak lagi merasa itu sebauh ajaran agama apalagi rasisme.

Setelah itu, barulah calon penumpang memberi tahu daerah yang ingin ia tuju, bila sopir tidak tahu, maka transaksi bias saja batal. Tetapi jika si calon penumpang sudah tahu lokasi yang dituju, transaksi bisa berlanjut. Setelah si sopir atau calon penumpang tahu lokasi dan rute yang dituju dan ditempuh, baru aksi tarik ulur harga dimulai. Tapi kadang musibah menimpa saat mobil sudah melaju di tengah jalan, sopir yang saat ditanya apakah dia tahu lokasi yang dituju dan menjawab tahu, tiba-tiba dengan polos tanpa salah berkata: “Weyn tibbu antum bizzobt.” (Kalian pastinya mau kemana sih). Kadang saya langsung terbayang orang yang menempelkan punggung tepalak tangan ke jidatnya dan dengan bibir serta rona muka yang khas seraya berkata: “Capek deeeeeeehhhhh….”

Setelah sopir tahu tujuan dan rutenya, saya pun menanyakan ke pak sopir tua itu berapa harga tumpangan dari kampus ke daerah KBRI: “Giddas ya haj?” (Berapa pak?) Ia menjawab: “Zuj wa nush.” (2,5 dinar. Sekitar 17.500 rupiah dengan kurs 1 dinar 7000 Rp). Tentu kalau langsung sepakat acara tawar menawar menjadi hilang tanpa makna. “La la la.” (Nggak ah) Jawab saya. “Giddas antum tumsyu gadi.” Timbal sopir dengan dialek Arab Libya yang amburadul kalau dilihat dari aturan-aturan Arab baku yang artinya: “Biasanya ente pergi kesana berapa?” “Zuj dinar bahe?” (2 dinar gimana?). Sopir menganggukan kepalanya dengan mengucapkan “Bahe bah” yang artinya ok.

Sopir yang tahu lokasi tujuan biasanya menawarkan harga dengan harga umum. Beda dengan sopir yang sok tahu, kadang menyodorkan harga selangit dan dengan berbagai alasan, lokasinya jauhlah, macetlah, dan berbagai alasan lain agar bisa melegitimasi besaran ongkos yang diinginkannya. Kalau sudah begini transaksi pun langusng saya tutup dengan kata syukron, wassalam (Terima kasih, salam). Tapi jika penumpang perayu gombal, akan terus menggoda sampai jurus utama khas mahasiswa pun dikeluarkan.

Ma’liesy ya ustadz (Maaf pak sopir), kadang sopir juga dipanggil seperti itu, tergantung keadaan si sopir. Tetapi yang sering dipakai pertimbangan biasanya kisaran umur si sopir. Jika sopir sudah tua, biasanya dipanggil dengan ya haj, ustad, syeikh, baba, sidiy dan kata lainnya yang sesuai dengan orang tua. Jika masih muda, kadang dengan sebutan ya syab, khuy, shodiq, dsb. Sa’idna ya ustadz, ane talib musy ‘ummal. Khoffidl suwayya bahe (Tolonglah pak, saya ini mahasiswa bukan pekerja. Diskon sedikit lah). Itulah jurus pamungkas mahasiswa dalam menghadapi harga selangit ataupun harga tumpangan di atas pasaran, dan tentunya dengan mimik wajah yang memelas walau sebenarnya kantong belakang tebal berseri. Jika pak sopir berbelas kasihan, turunlah harga dan transaksi berlanjut. Jika tidak, mending cari taksi lain, emang taksi dia doang apa…!

Setelah sepakat harga, saya pun duduk di samping kanan sopir tua yang memakai jilbab (atau yang dikenal di Indonesia dengan jubah), baju tebal hitam panjang sampai lutut khas musim dingin yang sering dipakai oleh mafia-mafia seperti di film, juga peci hitam bundar khas Libya.

Saya pun mulai membuka obrolan agar tak terhinggapi rasa bosan dan kaku juga agar perjalanan terasa cepat. Itu pun karena sudah sedikit tahu tipikal sopir yang akan menemani saya. Jika kelihatan ramah, maka saya ajak ngobrol, jika keliatan mukanya pendiam dan kurang akrab, saya kurang berani untuk memulai obrolan khas dengan sopir-sopir taksi Libya.

Pertanyaan tentang kabar yang dalam pembukaan transaksi tadi, diulangi lagi saat sudah duduk manis terpaksa karena kondisi dalam taksi bajakan yang kurang nyaman, debu, kotor, dan pasir yang berserakan di celah-celah lantai mobil. Maklum, Libya adalah negeri padang pasir, sehingga kalau pun mobil dicuci tiap jam, debu-debu akan tetap setia menciumnya super cepat. Jadi tak heran jika mobil di sini seperti tak mendapat perhatian penuh seperti di Indonesia.

Dengan santai dan tersenyum, pak tua itu menjawab apa yang saya tanyakan. Tetapi tiba-tiba ia menghentikan mobilnya, karena di depan ada orang yang melabaikan tangan tanda mencari tumpangan. Pak tua pun meminggir dengan mobilnya. “Syari’ ‘asyroh?” Tanya orang di luar. “Aiwa.” Jawab pak tua. Orang itu pun masuk ke mobil dan duduk tepat di belakang saya.

Setelah taksi gelap ini kemasukan penumpang lain, saya segan untuk banyak tanya ke pak tua, takut menggangu penumpang lain. Akhirnya saya diam. Sampai saat sudah melewati pertigaan dan tepat di samping kantor pemerintah yang mengurusi kemaslahatan jalan raya, pak tua itu bertanya:

“Enta talib fi kulyah dakwah?” (Kamu mahasiswa di kulyah dakwah?)

“Na’am.” (Ya) Jawab saya.

“Kam sanah lik fi Libya?” (Sudah berapa tahun di Libya?)

“Taqriban arba’ sanawat.” (Lebih kurang empat tahun).

Setelah itu kembali diam. Dan ketika melewati proyek jembatan layang dekat sekolah dasar yang dipegang oleh salah satu kontraktor Brazil, pak sopir bertanya lagi:

“Enta Indonesy?” (Kamu orang Indonesia?)

“Na’am. Keif ‘aroft?” (Ya. Kok tahu?)

“Hekke.” (Ya tahu aja.) “Min wujuh.” (Dari wajah) Jawab pak sopir sambil telunjukya berputar mengelilingi wajahnya sendiri.

“Owh.” (Bukan dialek Libya, artinya sama dengan owh di Indonesia) Respon saya sambil sedikit menggerakan kepala ke atas dan bawah, juga mulut sedikit monyong agar pelafalan ‘owh’ sesuai dengan mahkorijul hurufnya, karena tak mungkin mengucapkannya dengan mulut nyengir.

Beberapa meter kedepan, kami sampai di jembatan Syari ‘Asyroh, penumpang yang di belakang turun di sini. Tapi dia agak kesusahan membuka pintu, hingga pak tua pun berujar:

“Iftah min barro.” (Buka dari luar).

Penumpang yang di belakang pun membuka kaca jendela, kemudian membuka pintu setelah menyerahkan uang setengah Dinar. Dan keluar tanpa sepatah kata pun.

Mobil bergerak kedepan ke ujung jembatan dan langsung dipertemukan dengan perempatan macet karena dari sebelah kanan ada jalan baru yang muncul dari tol, jika saja tidak ada pembatas tengah, maka suasana jalan akan semakin macet dan semerawut, karena dari sebelah kiri pun ada jalan yang menyatu, ditambah arus lalu lintas yang tak mengdepankan rasa sabar dari para sopir. Untung waktu itu jalan tidak terlalu macet, jalan kecil itu tak sesibuk seperti biasanya.

“Grib masyru’ fi trig yusil ila qubri sallajt wala. Lesy ma namsyis min gadi?” (Dekat proyek tadi kan ada jalan ke Jembatan sallajah –jembatan deket KBRI. Kenapa tadi gak lewat sana saja?). Tanya saya.

“Aiwa, lakin trig musy kwais, mukassar.” (Ya, tapi jalanya jelek, rusak)

“Bah.” Jawab saya.

Saya menanyakan itu karena saya kira pak tua tidak tahu jalan pintas dekat proyek jembatan itu. Memang jalan pintas itu tidak beraspal, tapi itu juga tidak semuanya. Dalam sedikit macet saya pun kembali bertanya:

“Weyn sakan ya sidy?” (Rumah bapak dimana?)

“Heuh. Sa’ah gidamak.” (Heuh, jam di depanmu)

“La la, musy sa’ah ya sidi. Sakan, sakan bita’ak.” (Bukan, bukan jam pak. Rumah, rumah bapak dimana?)

“Gidaam, gidam jami Nasr bizzobt.” (Di depan, depan masjid Nashir pas)

“Leys sumiya jami bi Nashr?” (Kenapa masjidnya dinamai Nashr?)

“Musy ‘arif, hekee min jaman.” (Gak tau, dari dulu begitu)

Cerita tak dapat saya korek, kenapa masjid jami depan wartel yang saya dan teman-teman biasa telepon itu dinamai An-Nashr, sama juga ketika saya tanyakan kenapa jalan ini dinamai jalan sepuluh. Pak tua malah bercerita tentang nama jalan lain, tetangga jalan 10, yaitu jalan 9 dan 11.Padahal saya berharap besar pak tua itu tahu, karena saya salut pada orang-orang Arab yang suka menulis tentang sejarah dirinya ataupun lingkungannya. Seperti ini pula yang saya lakukan saat saya mengunjungi suatu daerah ketika saya di Indonesia. Tapi sayang, Indonesia begitu kurang peduli atas sejarah dirinya sendiri.

“Syuf syuf, hadzi bayti ally janbi khoyyat.” (Liat kesana, itu rumah saya yang dekat tukang jahit)

Saya lihat ke sebelah kiri, disana ada rumah dua tingkat yang tingkat atasnya belum dicat.

“Giddas yukallif.” (Berapa biaya bangunnya?)

“Musy halba.” (Gak banyak)

“Tabny min awwal?” (Bangun dari awal?)

“La la, faouq bas.” (Nggak, yang atas aja)

“Owh. Giddas yukallif fulus id kan wahid yabni beyt tobaqoteyn min awwal?” (Owh. Kalo orang mau buat rumah dua tingkat dari awal berapa biayanya?)

“Taqriban khomsin aw sittin alf hekke.” (Kurang lebih 50 atau 60 ribuan lah)

“Wa tobaqoh wahdah bas?” (Kalo satu tingkat aja?)

“Arbain taqriban.” (Mungkin 40-an)

Tepat di perempatan sebelah utara setelah masjid jami’ An-Nashr, mobil belok kiri. Bukan ke jalan baru, tapi ke bahu jalan yang tadinya berada di sebelah kiri. Dengan hati-hati pak tua melihat depan dan kanan, tapi tepat setelah belok malah ada anak kecil berseragam SD tak mau minggir, membuat pak tua agak kesal sedikit. Setelah mobil jalan dengan santai dan tepat di belokan sebelah selatan dekat jami An-Nashr, Saya kemudian bertanya kembali:

“Huwa thlolib fil ibtidiyah?” (Anak kecil tadi Murid SD kan?)

“Aiwa.” (Ya)

“Tilmidz ibtidai yadrus fil masa..?” (Murid SD sekolahnya sore?) Tanya saya dengan nada heran.

“Aiwa.”

“Wa marhalah I’dadiyah wa sanawiyah?” (Kalau SMP dan SMA?)

“Humma fis shobah.” (SMP dan SMA sekolahnya Pagi)

“Keif hekke, masa hadzi waqt ta’ab, munsaib listirohah. Lakin atfal fil ibtidai yagro mistli hadzal waqt.” (Kok gini, sore kan capek, cocoknya untuk istirahat. Tapi anak-anak kecil kok malah belajar di sore hari) Sanggah saya.

“Wallahi hekke hukumah.” (Dari pemerintahnya begitu) Jawab pak tua.

Setelah belok kanan menuju arah daerah Gut Sya’al, saya diam. Mobil terus menyusuri jalan yang menghubungkan Gut Sya’al dan Syari ‘Asyroh ini. Setelah itu pak tua menekan rem mobil dan melihat suasana kiri kanan untuk selanjutnya memasuki jalan utama Gut Sya’al. Saya kira pak tua akan lurus menuju lampu merah yang masih agak jauh, tapi ia membelokan mobil ke kiri sambil mencari tikungan, sepertinya ia akan mengambil jalan pintas, karena jika melalui lampu merah, jarak yang ditempuh agak jauh. Itu pikiran saya.

Ini baru pertama kali saya melawati jalan yang dipilih pak sopir tua ini. Masuk ke perumahan yang belum pernah saya lewati saat menuju KBRI. Dan ternyata, setelah melewati beberapa belokan dan jalan yang banyak berlubang juga genangan air, jalan ini juga akhirnya bertemu dengan rute yang suka kami lewati. Dimana jika mobil menuju ke arah utara, maka akan menuju bekas rumah yang disewa oleh salah satu orang Indonesai beberapa tahun kemarin.

Mobil terus melaju ke arah barat melalui jalan perumahan juga, tetapi jalan ini tidak asing lagi bagi saya. Tiba-tiba saja pak tua menjalankan mobil pelan-pelan sembari menekan klakson berkali-kali. Ternyata di sebrang kiri ada tiga orang bocah kecil sedang bermain, mobil pak tuan semakin dekat kepada tiga bocah tersebut. Sembari berlari medekat ke mobil, ketiga bocah itu berteriak: “Jaddy jaddy jaddy.” (Kakek kakek kakek).

Mobil terus jalan perlahan-lahan dan diikuti ketiga bocah tadi. “Kholas kholas, rowwah gadi ya wuldy.” (Sudah sudah, pulang sana anak-anak) Ujar pak tua kepada tiga bocah tadi dengan nada pelan. Tapi anak-anak itu malah tetap mengikuti mobil yang saya tumpangi. Mobil belok kanan sembari direm perlahan-lahan kemudian berhenti. Pak tua kemudian mengambil uang seperapat Dinar di kotak dekat setir, tiga bocah tadi langsung mengerubungi pak tua sembari menyalaminya satu persatu. “Hadzi khud.” (Ni ambil) Uajr pak tua sembari memberikan uang seperempat Dinar tadi ke salah satu tiga bocah itu.

Saat menyalami pak tua dan setelahnya, bocah-bocah itu terlihat memandangi saya heran, tentunya karena wajah saya yang kurang familiar bagi mereka dan juga beda kontruksi dan rasa. Sepertinya mereka ingin mengucapkan sesuatu, tetapi mungkin agak sedikit sungkan dan malu. Lalu saya pun menyapa mereka “Syin jaw” sambil menyodorkan tangan dan bersalaman. Hanya satu yang saya dapat salami dari arah pak sopir, saya kira yang dua lagi tidak mau bersalaman, ternyata mereka berlari memutar ke belakang mobil menuju ke arah saya, kemudian menyodorkan tangannya dari jendela dengan diam tanpa kata dan tanpa senyum. Saya ucapkan lagi “Syin Jaw”, mereka berdua hanya senyum tak menjawab.

Mobil berjalan kembali setelah pak tua menyuruh tiga bocah itu kembali ke rumah. Sehingga saya pun mengerti kenapa pak tua memilih jalur ini.

“Humma ahfaaduk?” (Mereka cucu-cucu bapak?) Saya membuka lagi percakapan.

“Awlaad.” (Anak-anak saya) Jawab pak tua.

“Ahfaad aw awlaad?” (Cucu apa anak pak?) Tanya saya menyakinkan apakah mereka bertiga itu anaknya atau cucu-cucunya. Masa sudah tua begini anak-anaknya masih pada bocah-bocah kecil.

“Aiwa, ahfaadi.” (Ya ya, cucu-cucu saya).

Sesaat setelah itu, hati dan akal saya tersenyum karena peristiwa ini mengingatkan saya pada kejadian-kejadian dahulu yang saya alami dengan taksi-taksi lain di Libya dengan berbagai keunikannya.

Beberapa tahun lalu, saya dan teman-teman berada di kawasan timur Tripoli, tepatnya daerah Syuqul Jum’ah di rumah salah satu pegawai KBRI Libya. Disana kami membantu acara aqiqah yang ditujukan untuk memberkati anak perempuannya yang baru lahir. Singkat cerita, acara selesai pada tengah malam, kemudian kami bermaksud untuk segera kembali ke asrama kampus yang berada sekitar 15 kilometer dari rumah pegawai tersebut. Kami pun pamit undur agar bisa sampai ke kampus sebelum gerbang dikunci.

Dengan membawa berbagai macam bingkisan, kami berdiri di tepi jalan untuk menyetop taksi yang lewat. Beberapa saat kemudian kami mendapatkan satu taksi, dan sebahagian teman menaikinya dan hilang dari hadapan saya. Sedang saya dan teman yang lain masih menunggu taksi lainnya. Taksi pun didapatkan, setelah melewati berbagai jalan diplomasi ala taksi, akhirnya saya dan teman pun masuk ke taksi tersebut.

Di dalam taksi kami ngobrol dengan bahasa Indonesia, dan diselingi sedikit gelak tawa untuk meringankan beban capek. Ternyata, mungkin sopir yang masih muda itu agak sedikit terganggu dengan bahasa aneh yang didengarnya, ia pun menyetel music pop Arab, dan kami pun terdiam karena memahami isyarat ini, disamping juga capek dan lelah.

Ditengah perjalanan salah satu teman berujar:

“Ya suwwaq, fi Elissa walla?” (Bang sopir, ada lagu Elissa kan?)

“Fi, fi.” (Ada ada) Jawab sopir dengan nada santai dan sedikit kurang ramah. “Tubbu Elissa?” (Mau denger Elissa?) Tawar sopir.

“Aiwa, Elissa miyya miyya.” (Ya, Elissa tuh enak banget) Jawab salah satu teman saya dengan nada tekan yang lebih pada kata ‘Miyya miyya’ yang arti sebenarnya adalah 100% diambil dari kata baku Miah fil miah.

“Bas doruri jidu fulus.” (Tapi harus tambah ongkosnya) Ujar sopir muda.

“Hahahahha.” Kami bersama tertawa agak keras. Karena baru kali ini ada sopir yang memberikan tarif musik di taksinya.

“Bahe bah, mafi musykilah. Njidu fik fulus.” (OK. Tak masalah, kami tambah ongkosnya) Jawab seorang teman, setelah sopir agak ngotot dan tidak mau menyetel lagu Elissa kalau tak ada tambahan ongkos.

Kami larut dalam perjalanan dengan lantunan merdu suara diva pop nomor satu di kawasan Arab ini. Terdiam mendengarkan, terdiam juga karena kelelahan.

Setelah tiba di depan gerbang utama, kami turun dan salah satu teman memberikan ongkos yang telah disepakati. Tak dikira, sopir meminta beneran tambahan ongkos yang dikatakannya tadi dalam mobil karena sudah memberikan layanan plus dengan lantunan lagu Elissa. Teman saya pun langsung memberi tahu kami dengan suara agak keras. Tapi kami malah ketawa tanda heran dan aneh karena kami hanya mengangap itu sebagai guyonan biasa para sopir dalam masalah ongkos tumpangan, tapi sopir yang satu ini malah meminta tambahan beneran. Kami pun memberinya tambahan karena tidak mau debat berbicara dengan orang yang sepertinya sedang dilanda emosi di samping juga tambahannya pun tidak terlalu besar. Kami pulang sambil membicarakan ulah sopir tadi dengan diselingi tawa bersama.

Di lain kesempatan saya dan juga beberapa teman akan bertemu dengan salah seorang Syeikh di daerah Syuq Tsulasa (Pasar Selasa) dekat kawasan istana Presiden yang dahulu pernah dibom oleh Amerika. Masalah ongkos tak ada masalah dengan sopir yang berjanggut dan berjambang lebat juga memakai jilbab (di Indonesia disebut jubah) putih ini, setelah mobil angkotnya kami carter untuk mengantarkan ke tujuan kami diatas.

Tetapi yang unik adalah saat di perjalanan kami ditanyai berbagai pertanyaan seputar Islam setelah dia tahu bahwa kami adalah mahasiswa di Kuliah Da’wah Tripoli. Mulai dari pertanyaan Allah berada dimana sampai masalah tentang sifat-sifat Allah yang dianut oleh madzhab Asyairoh (Madzhab teologi yang salah satu ciri khasnya adalah sifat Tuhan yang berjumlah 41). Pertanyaan yang saya kira tidak akan muncul dari mulut sopir-sopir di Indonesia yang mayoritas beranggapan bahwa pelaksanaan agama itu hanya buat orang-orang tertentu, sehingga pengetahuannya pun tak seberapa.

Suasana menjadi “panas” saat sopir itu menuduh teori Asyairoh adalah bid’ah dan malah menganggapnya sebuah kekafiran karena tidak diajarkan Rasulullah dan tidak ada dalam Al-quran. Kami pun tahu latar belakang orang-orang yang suka mengatakan hal ini. Dan dialog pun terjadi antara saya dan sopir.

“Anta greyta kutub bitahum?” (Anda sudah baca buku-buku kalangan Asya’iroh belum?) Tanya saya.

“La. Humma ahlul bid’ah.” (Nggak. Mereka itu tukang bid’ah)

“Ya syeikh, kefi gutli hekke, wenta ma greytasy bukkul kutub bitahum.” (Ya seyikh, kenapa anda berkata begitu, sedang anda sendiri sama sekali belum pernah baca buku-buku mereka)

“Mafis faidah…!” (Gak ada gunanya) Sergah sopir dengan nada keras.

“Ya haj, igra’ kul kutub. Kutub sholihin wa tholihin kul ma ba’d. hatta takun indak ma’lumat halba.” (Ya haj, bacalah semua buku. Buku orang-orang soleh dan orang-orang gak soleh, biar anda punya pengetahuan banyak)

Kami dan sopir sama-sama terdiam.

“Hatta imam bita jami’ giddam hadi asy’ariy.” (Imam di masjid depan –yang akan dikunjungi- juga penganut Asy’ariyah lho.) Celetuk seorang teman.

Sopir tak mau menjawab dan tak mau meneruskan pembicaraan. Akhirnya kami pun sampai ke masjid Syeikh yang akan kami jumpai. Kami turun dan memberikan ongkos.

“Ngomong aja tentang agama…! Kalo duit disabet langsung.” Salah satu teman menggerutu disambut tawa kecil kami karena di dalam masjid sholat Ashar sedang berlangsung.

Kami masuk pelataran masjid dan sopir pun ikut masuk untuk menunaikan sholat. Sedang saya masih menyimpan pertanyaan di otak, apakah sopir tadi menganggap sah tidak ya sholatnya, padahal imamnya ahli bid’ah.

“Hahahahahah.” Akal dan hati saya tersenyum terbahak-bahak, diikuti senyum simpul di kedua bibir.

Di lain kesempatan, kami mendapatkan taksi resmi yang mempunyai warna khas, yaitu mayoritas catnya hitam, sedang warna putih tersebar di empat titik mobil, dua di samping belakang, dan di samping depan juga dua. Tujuan kami sama dengan sopir yang berjanggut tadi, yaitu bertemu dengan syeikh.

Kami ngobrol dalam mobil dengan berbagai macam pertanyaan yang didominasi oleh pertanyaan-pertanyaan tentang negara asal kami Indonesia. Pak sopir memuji-muji Indonesia, negara Islam lah, berahlak lah dan sebagainya, sama seperti pujian-pujian dari orang yang hanya mengetahui sesuatu dari berita saja. Padahal tuan rumah lebih tahu apa yang ada di dalam rumahnya.

Setelah sampai masjid yang dituju, dan salah satu teman mau memberikan ongkos, tiba-tiba pak sopir menolak menerima tanpa memberi alasan yang jelas tapi kami menerimanya dengan jelas senang dan bahagianya. Kami pun masuk masjid dan sopir tadi pun masuk bersama kami.

Begitu banyak lagi hal-hal unik yang muncul dari sopir-sopir taksi Libya, baik yang resmi ataupun ilegal. Diisi percakapan yang penuh dengan seputar budaya dan hal ihwal tradisi di negara masing-masing, sehingga taksi tak terasa seperti angkot yang diselimuti diam setelah masuk plus tak ada acara tawar-menawar, karena tarif sudah ditentukan oleh pemerintah.

Mulai dari sopir yang muda yang banyak diisi dengan pertanyaan seputar wanita, pernikahan dan bola. Dengan berbagai profesi yang dipunyai, polisi, dosen, karyawan, guru, penghafal al-qur’an dan sebagainya. Sampai sopir yang mempunyai kelakuan mencurigakan seperti gay pun, semua bisa ditemukan di taksi Libya. Yang tidak mungkin didapatkan mungkin hanya taksi yang sopirnya perempuan. Di Indonesia juga sepertinya tak ada sopir perempuan, kecuali sopir-sopir Busway di Jakarta. Walau kadang banyak ditemukan bus atau mikrolet dan metro mini kernetnya perempuan, tapi sopirnya tetap saja sang laki-laki.

Mobil taksi mereka kadang punya sendiri, tapi mayoritas milik perusahaan tempat mereka mencari nafkah atau sekedar mencari tambahan saja. Tapi para sopir itu semua sama, tak ada yang memakai baju resmi dari perusahaan kalau taksinya dipayungi oleh perusahaan. Sehingga berbagai macam model baju yang dipakai oleh sopir-sopir taksi dapat ditemukan, mulai yang berpakaian necis berkaos ketat, jeans, kacamata hitam, plus sepatu lancip, sampai mode baju musim dingin pun yang menyerupai selimut karena besar dan panjang yang dilipat-lipatkan ke badan dapat kita lihat dan kita tanyakan kepada para dermawan yang mau mengantar ke tujuan ini, malah kadang ada sopir yang mengajak makan di rumahnya segala karena tertarik dengan keramahan penumpang, dan malah juga saling bertukar nomor telepon agar bisa memakai jasanya kembali. Walau kadang juga ada sopir-sopir yang suka berbuat ulah kurang senang, sampai sopir yang merampas barang atau memalak uang milik penumpang.

Begitu juga dengan merek mobil yang digunakan, berbagai merek mobil dari Eropa dan Asia timur bisa ditemukan di Libya ini menjadi taksi. Seperti Daewo, Nissan, Hyundai, Mitsubishi, Chevrolet, Toyota Camry, Mazda, Fiat, Audi, Mercedes, sampai mobil tua bermerek Volvo. Tapi satu yang membuat taksi sama walau merek berbeda, yaitu kotor, kotor dengan debu di luar dan di dalam. Kecuali hanya beberapa kecil saja yang memang mendapat perhatian dari sang sopir. Kenapa? Alasannya sudah saya kemukakan di atas.

Mobil yang saya tumpangi menuju KBRI belok kiri menuju arah barat, dan alhamdulilah tidak menabrak mobil dari arah barat yang mau belok kiri. Mobil itu mempersilahkan mobil yang saya tumpangi untuk belok kiri lebih dahulu. Pak tua kemudain menekan klakson tanda terima kasih atas penghormatan mobil tadi kepadanya sembari melambaikan tangan.

Mobil masih di kawasan perumahan yang dipenuhi rumah-rumah susun, bukan perumahan di awal kami masuk jalan pintas, tetapi perumahan yang sudah mendekati lokasi KBRI. Mobil belok kanan, sesaat kemudian belok kiri dan lurus jalan ke depan sehingga bertemu dengan jalan yang menuju jembatan Sallajat, jembatan dekat kantor KBRI.

Kemudian mobil belok kiri dan kemacetan menyambut kami, sedikit terkurung di tengah jalan akhirnya kami terbebas dari kemacetan karena mobil yang lain bersabar untuk menunggu mobil lain keluar dari keterdiamannya. Di samping kanan murid-murid SD keluar berhamburan dari gerbang sekolah yang tak saya ketahui sebelumnya, padahal saya sering melewati jalan jembatan Sallajat ini. Apalagi lokasinya dekat dua lapak pedagang sayuran di sebelah selatan sekolah tersebut yang kadang saya kunjungi. Mungkin karena saya jarang melewati jalan ini pada waktu-waktu sekolah, sehingga saya tak mengetahui bahwa di dekat pedagang sayuran itu ada sekolah SD.

Kami pun akhirnya sampai di atas jembatan Sallajat persis, dimana tepat di bawahnya adalah jalan tol utama yang menghubungkan Tripoli dengan kota Zawiyah yang letaknya di barat Tripoli.

“Giddam khdu yasar ya sidi.” (Nanti di depan belok kiri pak) Saya menunjukan pak sopir sambil menggerakan tangan kearah kiri karena lokasi KBRI sebelah kiri jembatan Salllajat yang juga dinamai jalan Jami’ Al-Birr.

Akhirnya saya sampai di depan gerbang KBRI Tripoli, kemudian saya mengambil dompet dan menyerahkan dua lembar uang satu Dinar kepada pak sopir sambil berkata terima kasih. Saya buka pintu dan mengucapkan salam tanpa salaman yang kemudian dijawab oleh pak tua.

Jarum jam pendek menunjukan ke angka lima, tapi yang panjang masih tersisa untuk sampai kepada angka detik yang puncak. Saya bergegas membunyikan bel dan gerbang kecil pun terbuka.

 
Leave a comment

Posted by on 27 January 2011 in Seru

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: