RSS

Kisah dokter Hardi: Dokter VS Polisi – part 2

21 Feb

Aku seorang dokter dan sudah beristri. Bertemu Aldo -polisi- yang membantu membetulkan ban mobilku yang kempis. Kami berniat berganti pakaian di hotel hingga terjadilah kejadian yang aku inginkan. Hubungan kami berlanjut…

Pulsa tidak menjadi masalah bagiku untuk terus tetap menjalin hubungan dengan Aldo. Tapi penting bagiku untuk terus selalu menghapus inbox dan sent items supaya tidak terjadi masalah meskipun aku tahu istriku tak akan curiga sampai di sana. Semakin hari semakin akrab. Pemikiran Aldo nyambung. Mungkin karena sama-sama memiliki keluarga. Dia seorang yang cerdas dan dewasa dalam berpikir. Bisa mengimbangi pemikiran dan keinginan serta cerita yang aku lontarkan

Aku menginginkan untuk melakukan sekali lagi dengan ‘Alvino’ku ini. Memang wajahnya agak mirip dengan bintang sinetron itu kok. Aku suka sekali. Ternyata bagai gayung bersambut. Dia juga menginginkanku sama seperti aku menginginkannya. Namun kali ini aku menginginkan posisi aku sebagi top.

“Pasti kamu suka. Enak kok. Memang aku mau, kalau gak enak??” begitu smsku.

“Yaaa tapi nanti lihat situasi. Kalau gak enak kita brenti…” balasnya.

Yesss!!! akhirnya hari janjian pun tiba. Kami dinner di hotel seperti teman lama yang lama sekali tidak berjumpa. Tidak banyak pembicaraan penting tapi rasanya romantis sekali. Aku merasakan dia juga senang sekali dengan perjumpaan ini. Lalu setelah makan kami menuju ke kamar.

Tanpa banyak basa-basi kami segera pelukan sedetik setelah pintu kamar ditutup dan dikunci. Cepat sekali dengusan nafsu kami meningkat. Aldo menciumiku leherku. Aku pun tak tahan untuk menikmati tubuhnya yang putih itu.

Aldo tak tahan untuk segera menelanjangiku… kontol kudaku langsung tegak dan mengacung. Polisiku kini membantuku memuaskan hasratku. Kontol yang panjang dan besar diremas dan dikocok-kocok. Aku agak kesulitan membuka celana coklatnya. Ya dia memakai baju dinas. Tanganku ku masukkan sambil mulut kami sibuk mencium sana-sini. Kacau tapi nikmat.

“Hmmmm Hardi aku kangen sam.. ” Aldo tak sempat menyelesaikan kalimat karena bibirku sudah menempel di mulutnya.

“Iya sayang aku juga…” ujarku.

Tapi jangan salah walau kami ML dan sayang-sayangan namun kami bukanlah sepasang bf/boyfriend seperti yang disuka para gay. Kami hanyalah sekedar teman akrab yang sama sama suka untuk salin menlengkapi dan membantu memuaskan.

Aldo nafsu sekali kali ini. Mungkin kontol kudaku memang membawa rejeki untuk membuat cowok takluk. Hampir semua gay suka kontolku apalagi banci. Sayang aku gak suka banci (maaf!). Lebih suka yang manly terutama yang ganteng. Boleh kan kalau aku memiliki pilihan dan kesukaan?

Tiba-tiba saja dia berlutut dan langsung memasukkan kontolku ke mulutnya. Aku tahu ini yang pertama. Terlihat dari gerakannya yang terlihat agak ragu sekian detik pertama. Namun setelah itu dia terlihat sangat menikmati. Kontolku memenuhi mulutnya…

“Mmmhhh …” Aldo sangat menikmati mainan barunya.

Beberapa kali dia melihat wajahku dan ingin tahu apa kulumannya enak atau tidak. Dia tahu kalau aku sangat menikmati. Mataku terpejam-pejam dan mengerang menahan nikmat yang tak terkira.

“Ooouuuhhhggg aaahhhh… ouw yyeeesss” erangku.

Aliran kenikmatan menjalari batangku. Hangat dan bertambah.

Dia membuat beberpa variasi dan kadang mencoba meniup atau mengisap kontolku. Dihisap dan dikocok adalah favoritku. Sempurna memang hisapan seorang cowok. Cowok tau seberapa kuat dan halus memegang serta menghisap kontol. Cewek mungkin bisa tapi tidak setepat cowok karena mereka tidak memilikinya. Terkadang terlalu keras memegang terkadang juga terlalu longgar. Heran juga kejadian pertama dia hampir tidak mau ML tetapi kini dia sangat bernafsu. Bahkan mau mengulum kontolku yang keras dan berurat. Lama dia mempermainkan kontolku hingga batang dan kepala kontolku memerah berkilat oleh air liurnya.

Aldo tersenyum saat dia melepas kontolku dan menciuminya. Seragam dinasnya masih belum lepas. Namanya sekarang jelas karena tidak lagi tertutup jaket. Dia berdiri dan melepaskan celananya siap untuk menghujamkan kontolnya.

“Eitt… gantian!” ujarku berdiri dan mengambil pelumas dan kondom

“Tapi nanti sakit…” katanya khawatir.

“Percaya sama aku. Aku dokter…” kataku meyakinkan.

Aldo sudah tiduran telentang. Kutekuk kakinya sehingga lubang anusnya yang perawan terbuka jelas. Jeli khusus pelumas kuoleskan ke sana. Dan kutusukkan jari tengahku.

“OOOaaaaahhhh…” jeritnya. Mungkin terkejut. Namun hanya sebentar…

“Oooaaaahh….” jari telunjukku kumasukkan setelah dia cukup terbiasa.

Aku tahu pasti sakit dan pegal.

“Do kamu tahan ya… agak sakit sekikit. Nanti setelah beberapa lama pasti akan terbiasa dan merasa enak,” ujarku.

Memang benar akan terasa sakit bahkan terkadang berdarah bagi yang pertama kali disodomi. Tetapi setelah beberapa saat diantara rasa sakit akan terasa enaknya.

Kukocok kontolku yang agak mengendur tadi. Kuselimutkan kondom dengan cepat. Kuarahkan kepala kontolku ke arah lubang kerut yang telah kubiasakan untuk menerima benda asing tadi.

“Santai broo…” Ujarku sambil mengarahkan dan mendorong.

Aku tahu Aldo sangat tegang dan menanti rasa sakit itu. Kuoleskan lagi jeli banyak-banyak ke kondomku. Terasa ketat dan licin sekali. Bukan lebih cepat masuk tetapi bertambah licin dan sering terpeleset. Namun terasa lebih mudah setelah dibantu tangan.

“Wwwuuuuuahhhh … sempit ahhh enakk…” aku terdiam setelah masuk separo.

Ya. Harus begitu, aku tidak mau Aldo kapok karena aku bermain kasar. Lagian pada pengalaman pertama ini sudah termasuk bagus. Aldo semakin rilex dan tidak lagi terlalu mengencangkan otot anusnya.kucoba untuk menariknya sedikit lalu memasukkan lagi. Kuulangi lagi.

Aldo mencoba pasrah. Aku tahu dia sedang mencari nikmat seperti yang kuiklankan kepadanya. Satu lagi aku tidak boleh bermain terlalu lama dengan bottom baru atau dia bakalan sakit dan menderita bengkak. Maka segera kukayuh pedal sexku hingga kontolku menghujam lumayan dalam.

“Oooouuughhh…..” Aldo menjerit.

“Sabar do.. sebentar lagi juga enak” ujarku.

Aldo mengangguk tapi wajahnya menyiratkan keraguan dan kesakitan. Tapi dia bisa bertahan mungkin ini karakter yang dia dapatkan selama pendidikan di kepolisian. Dia menahan sakit sewaktu aku mulai memasukkan kontol lagi. Lama kelamaan wajahnya yang memerah mulai mengeluarkan butir-butir keringat. Uhhh dadanya juga…

Perlahan tapi pasti gerakanku tambah keras…

“Oh oh oh.. aw ahh ahhh…” Aldo mulai mengerang.

Aldo akhirnya menemukan juga nikmatnya jadi bot. Aku berani taruhan kalau sejak saat ini dia bakal ketagihan kontol. Tiba-tiba saja aku merasa orgasmeku datang. Kutari kontolku dari sana.

“Ow..” jerit Aldo sambil ingin tau apa yang baru saja dicabut dari pantatnya yang pasti terasa kosong.

Kulepas kondom itu… kukocok kontolku di depannya. Aldo juga mengocok kontolnya dengan cepat
dan …

“Aaahhh…”

“Aaaahhh…” kami memuncratkan mani bersama….

Nikmat sekali. Aku tidur di sebelah Aldo. Aldo mencampurkan mani kami dengan telapak tangannya. Lalu dia melebarkan hingga dadanya. Menguar bau mani lelaki. Belum sempat sadar telapak tangan Aldo sudah menempel di pipiku. Sialan!

Aldo memegang kedua pipiku dan mencium mulutku lagi.

Lalu kami sempat terlelap pipi kami beresentuhan. Aku terbangun waktu kurasa kontolku terasaenak diremas-remas Aldo. Aku membuka mata dan tersenyum. Aldo menciumku lagi.

“Mandi yuk sayang…” ajak Aldo lembut.

Ini pertama kali Aldo memanggilku sayang. Ah, ada saja dia.

“Yuk…” katanya sambil membangkitkan aku dari tidurku.

Aku dicium lagi. Aku pun balas menciumnya. Ah romantis nian.

Kami berjalan bergandeng pinggang tanpa ingin melepas. Bahkan ke kamar mandi pun kami berciuman. Ah indah sekali saat itu. Aldo masuk dan mulai menyalakan shower. Dia sibuk mencari hangat yang pas.

Aku tak mau tinggal diam. Aku memeluknya dari belakang dan mencium tengguknya. Dia menikmati adegan kami. Air memancur bagai hujan dari atas… aku jadi teringat waktu pertama kali Aldo membantuku membetulkan Ban. Wajahnya juga basah…

“Yang, terimakasih sudah membantuku membetulkan ban ya…” ujarku

“Hah?!” sejenak Aldo kaget dengan kata-kataku yang tidak nyambung. Namun dia tersenyum.

“Aku suka kamu sejak melihatmu dalam basah oleh hujan itu…”

Aw aw aw kata-kata yang indah.

Kami terlibat dalam sebuah ‘french kiss’ yang begitu dalam.

Badan kami bertempelan, mani yang tadi mengering sekarang terasa licin di dada kami. Ada yang keras dan hangat di bawah perut bertempelan… kontol kami. Aku mencoba menggerakkannya dan enak rasanya…

Sementara lidah kami liar di mulut lawan ciuman… pantat kami pun liar bergerak.

Terkadang kami berpelukan erat di bawah air pancuran itu. Aku suka seperti suasanya hujan waktu itu. Hanya tempat dan suasananya berbeda. Aku merasa ingin membekukan waktu seperti ini dalam hidupku. Agar pada saat aku ingin tinggal mencairkan dan mengulanginya lagi.

Sayang waktu tidak mau berhenti. Aku pun jongkok dan mengulum kontolnya. Aku mengisapnya. Ini nikmat sekali apalagi dilakukan di bawah derasnya air shower.

Kepalaku maju mundur memberi kenikmatan kepada batang kejantanan Aldo. Sementara tangan Aldo memainkan puting dan mengelus-elus dadanya yang bidang. Sambil melenguh dan menikmati nikmatnya diisap.

“Di… udah.. udahh… ” tiba-tiba dia melepaskan kontolnya dari mulutku.

Rupanya dia tidak mau keluar dahulu… lalu aku dibimbingnya berdiri dan kontolku diraih dan dikocok dengan tangannya sementara mulutnya menciumiku… di pipi, telinga dan leherku.

“Aaaahhh… Pak Polisiku sayannnggg…”erangku

Kami berdua mulai terbakar api asmara sesama jenis lagi… nafsu.

Aldo meraih paha kiriku dan mengangkat kakiku ke pahanya. Dengan demikian pantatku terbuka. Aldo mengarahkan kontolnya ke sana… ada sesuatu yang pegal dan geli merayapi lubang anusku. Lalu aaaahhhh nikmat yang terasa. Apalagi yang memasuki tubuhku adalah kontol Aldo sayangku.

Ooouuuuhhhh nikmat rasanya…. tanpa terasa kontolku tegang mengacung-ngacung diantara perutku dan perut Aldo.

Tiba-tiba saja mati lampu… keadaan menjadi gelap. Hujan deras di luar rupanya. Kilat menyambar-nyambar diluar menimbulkan bayangan tersendiri. Ah tepat nian seperti waktu ban mobilku bocor…

Kami berciuman dalam gelap ahhh… ini takkan terlupakan. Rasa de javu dan mimpi jadi kenyataan berbaur jadi satu. Ooo sungguh momen yang indah.

“Hardiii… aku hampir neh….” bisik Aldo di telingaku.

Kuraih kontolku dan kukocok dengan cepat. Aku ingin orgasme bersama lagi.

“Aaaahhh.ahhhhh…” Aldo semakin buas menusukkan kontolnya.

“Harrrrr aaaaahhhhmmmmmm…..” Aldo memelukku sangat erat menekan kontolku.

Akupun mengejang dan berkedut karena akupun orgasme. Tiba-tiba lampu menyala.

Aldo melepaskan kontolnya dari anusku. Kami berpelukan dan berciuman masih di bawah shower. Ah indahnya… saat dia juga tersenyum.

 
2 Comments

Posted by on 21 February 2011 in Bebas

 

Tags: , ,

2 responses to “Kisah dokter Hardi: Dokter VS Polisi – part 2

  1. Ade ferdi

    3 January 2014 at 20:34

    Jujr cerita seruh & hot buat org iri aje dh & aq iri ama dokter bisa main ama POLISI solx aq suka sekx nmx POLISI/TNI ng tau jg kenapa yg jelasx mreka itu gimn gitu aq bisa jd TOP bisa pula BOT umrq 24 tb/bb 167cm/52kg ukurn penis 18cm & diameter 5cm klo ada yg mau kenalan ama aq bisa ko tp ada syarat kirimi dlu foto yg tdk krmi maaf sy tidak akan balaz sms km2 ok klo ada ini no hpq 085256603391

     
  2. Yayan

    3 January 2012 at 23:28

    Aku jga pengen

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 57 other followers

%d bloggers like this: