RSS

Hubungan Seksual Sesama Jenis di Kalangan Remaja

27 Jan

“Hubungan Seks Sesama Jenis Mengkhawatirkan.” Ini judul berita di TEMPO Interaktif (29/9-2010). Disebutkan: “Temuan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota Bogor mengenai hubungan seks sesama jenis di kehidupan para remaja sudah memasuki tingkat mengkhawatirkan.”

Bahkan, Sekretaris Daerah Kota Bogor, Bambang Gunawan, mengatakan: “Kondisi ini menimbulkan persoalan karena banyak remaja yang terlibat dalam masalah tersebut.

Sayang, dalam berita tidak ada penjelasan tentang penyebab perilaku seks remaja Kota Bogor itu. Selain itu jika dikaitkan dengan temuan IMS (infeksi menular seksual, seperti GO, sifilis, klamidia, hepatitis B, dll.) serta HIV di kalangan remaja maka perlu ada penjelasan bentuk ‘hubungan sesama jenis’ apa yang dikeluhan itu.

Soalnya, risiko IMS dan HIV di kalangan lesbian sangat rendah karena belum ada laporan penularan IMS dan HIV melalui hubungan seksual pada lesbian (lesbian adalah bentuk homoseksualitas berupa orientasi seksual pada perempuan yang hanya tertarik apda perempuan). Maka, bertolak dari fakta yang dikemukakan yang dipersoalkan adalah hubungan sesama jenis pada remaja putra (dikenal luas sebagai gay pada kalangan laki-laki homoseksual).

Disebutkan berdasarkan data tahun 2005-2009 dari Penanggulangan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Kota Bogor kelompok penderita HIV terbesar usia 15-35 tahun. Data ini tidak bisa dikaitkan dengan perilaku hubungan seksual sesama jenis pada remaja. Kasus HIV dan AIDS yang banyak terdeteksi pada usia 15-35 tahun terjadi pada kalangan penyalahguna narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya) dengan jarum suntik secara bergantian.

Disebutkan oleh Bambang: ” …. salah satu faktor yang menyebabkan besarnya angka tersebut karena masih kurangnya pengetahuan remaja tentang bahaya penyakit akibat hubungan seks.” Kalau mengacu ke fakta terkait kasus HIV dan AIDS pada remaja bukan karena pemahman mereka yang kurang terhadap IMS, tapi karena mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS selama ini.

Ada fakta yang disampaikan tentang remaja yaitu: 29 persen belum mengetahui kesehatan reproduksi, 39 belum memahami Prilaku Hidup Sehat (PHBS), 25 persen tidak mengetahui IMS, dan 28 persen tidak mengetahui secara pasti bahaya penyebaran HIV/AIDS.

Seorang remaja putri di Yakita, pusat rehabilitasi narkoba di Bogor, mengaku tidak menyadari akibat perilakunya yang menyalahgunakan narkoba dengan jarum suntik secara bersama-sama dengan bergantian. Gadis ini mengaku dia hanya mengetahui penularan HIV dari berita di media massa, brosur, pamflet dan ceramah menular melalui zina, ‘seks bebas’, ‘jajan’, selingkuh, pelacuran dan homosekual. Maka, ketika dia memakai narkoba dengan teman-temannya sama sekali tidak terpikir olehnya akan tertular HIV. Ini menunjukkan informasi tentang cara-cara penularan dan pencegahan HIV selama ini tidak akurat karena dibalut dengan moral sehingga ada kesan penularan HIV hanya terkait dengan aurat (baca: maksiat).
Ada faktor yang menjadi salah satu pemicu ‘hubungan seksual sesama jenis’ pada kalangan remaja putra, yaitu sikap dan cara berbagai kalangam mulai dari pejabat, orang tua, pakar, guru, pemuka agama, dll. menggiring remaja untuk menjauhi relasi dengan lawan jenis (pacaran). Nasihat atau peringatan yang sering disampakai kepada remaja, khususnya remaja putri, adalah risiko hamil. Celakanya, tidak ada nasihat kepada remaja putra untuk menjaga pacarnya agar tidak hamil jika mereka menjalin asmara melalui pacaran.

Karena remaja putra dihantui ketakutan maka mereka pun memilih cara lain menyalurkan dorongan seksual agar tidak menimbulkan risiko kehamilan. Ya, pilihannya tentulah homoseksualitas. Begitu pula dengan remaja putri. Dalam kaitan ini alm. Sartono Mukadis, psikolog di UI, kepada penulis pernah mengatakan bahwa remaja perlu diberikan pengertian dan pemahaman agar mereka menjalin hubungan asmara (pacaran) yang bertanggung jawab. Bukan melarang dan menakut-nakuti. Artinya, remaja putra didorong agar menghargai pacarnya dengan tidak melakukan tindakan yang merugikan pacarnya.

Yang terjadi selama ini adalah melarang dan menakut-nakuti sehingga ada remaja yang ‘banting stir’ mencari penyaluran hasrat seks yang tidak berisiko kehamilan. Tapi, karena pengetahuan mereka tentang IMS sangat rendah maka mereka pun tertular IMS karena menyalurkan hasrat seksnya dengan pekerja seks komersial (PSK).

Persoalan baru muncul. Ketika mereka tertular IMS remaja putra itu tidak berani berobat karena di sarana kesehatan ada ketentuan bahwa anak-anak di bawah umur harus berobat dengan orang tua. Tentu saja remaja yang tertular IMS tidak akan berani menyampaikannya kepada orang tuanya. Akibatnya, mereka mencari pengobatan sendiri dengan cara membeli obat di kaki lima.

Tapi, karena obat untuk IMS harus melalui diagnosis maka obat yang mereka beli, biasanya antibiotik dosis tinggi, tidak menyembuhkan penyakit tapi menimbulkan penyakit baru. Seorang remaja terpaksa dibawa ke rumah sakit karena demam. Di rumah sakit baru diketahui remaja tadi tertular IMS. Sebelum sakit dia meminum obat yang dibelinya di kaki lima. Ada pula remaja yang rambutnya rontok karena meminum obat IMS yang dibeli di kaki lima.

Di salah satu daerah yang menerapkan aturan agama sebagai hukum membuat kalangan remajanya kelimpungan untuk pacaran. Soalnya, di daerah itu sepasang remaja berlainan jenis (kelamin) yang tidak muhrim dilarang berdua-duan. Razia yang digelar rutin akan menangkap sepasang remaja yang berduaan, walaupun hanya duduk-duduk di taman, di pantai atau di restoran. Sebaliknya, kalau sepasang remaja putra berdua-duaan, bahkan berpelukan, tidak akan ditangkap.

Dalam Qanun (Perda) Prov Aceh No 14/2003 tentang Khalwat/Mesum, misalnya, di pasal 1 ayat 20 disebutkan: “Khalwat/mesum adalah perbuatan bersunyi-sunyi antara dua orang mukallaf atau lebih yang berlainan jenis yang bukan muhrim atau tanpa ikatan perkawinan.” Makna kata bersunyi-sunyi tidak jelas. Tapi, kalau maknanya sebagai kegiatan yang tidak dilihat orang lain maka tidak ada alasan bagi polisi WH (polisi khusus syariah) untuk menangkap sepasang remaja yang duduk berduaan di pantai di siang hari, bahkan di malam hari jika di sekelilingnya ada orang lain.

Celakanya, belakangan ini ada wacana di beberapa daerah di Tanah Air untuk menerapkan peraturan daerah berlandaskan agama. ***

 
Leave a comment

Posted by on 27 January 2011 in Seru

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 57 other followers

%d bloggers like this: